sexta-feira, 28 de outubro de 2011

KESETIAAN, KEJUJURAN DAN KERENDAHAN HATI MERUPAKAN CARA HIDUP IMAN CRISTIANI YANG DEWASA DAN BERTANGGUNGJAWAB

(Mal 1,14 – 2,1-2.8-10; 1Tes 2,7-9.13; Mat 23,1-12)
Renungan untuk hari minggu, tanggal 30 Oktober 2011
S

emua orang baptis, baik itu pria maupun wanita, entah anak-anak maupun dewasa, semuanya dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan, kejujuran dan dalam semangat kerendahan hati.
Ulasan singkat mengenai inti dari ketiga bacaan.
Dalam bacaan pertama kita mendengarkan suara kecaman Tuhan terhadap kaum imam melalui mulut dari nabi Maleakhi (mal’akî = utusan Allah, + 430 s. M) karena sikap ketidak-setiaan dan ketidak-jujuran mereka. Karena sikapnya yang tidak loyal itulah membuat Tuham, selain mengecam sikap kepribadian mereka juga mengancam untuk merubah berkat keimamatannya menjadi kutukan (Mal 2,2). Menurut nabi Maleakhi, kehidupan kaum imam telah menyimpang jauh dari jalan kasih Tuhan. Selain itu ajaran merekapun sudah keluar jauh dari jalur kebenaran yang membuat banyak orang telah tersesat akibatnya (2,8). Sebagai saudara dari satu Bapa dan umat dari Tuhan yang sama, kaum imam hendaknya, didalam hidup dan karyanya, memberikan kesaksian akan keadilan, hak asasi, kebebasan yang bertanggungjawab dan kejujuran, dan bukan yang sabaliknya, memanipulasi, korupsi dan diskriminasi. Ketiga hal ini merupakan kanker yang merongrong sel-sel kehidupan baik itu sosial dan kebudayaan maupun moral dan spiritual.
Di dalam bacaan kedua, Rasul Paulus melalui suratnya yang pertama kepada umat di Tesalonika, menggambarkan sikap kerendahan hati dan kelemahlembutan – yang diibaratkannya bagaikan kebajikan hati dari seorang ibu terhadap anaknya – serta tindakan pelayanan Sabda Allah dari para misionaris yang sesuai dengan kehendak Tuhan, yang membawa akibat tumbuh dan berkembangnya iman umat di tengah masyarakat. Rasul Paulus merasa gembira dan bersyukur kepada Tuhan karena hal itu. Mentalitas pewartaan dari missionaris semacam ini justru terjadi sangat bertentangan dengan gereja masa lalu dimana para misionaris eropa (tentunya tidak semua mereka), seperti: Belanda, Spanyol, Portugal, Perancis, Jerman dan lain-lainnya justru menunjukan brutalitas terhadap masyarakay setempat, serta berbagai jenis kejahatan moral cultural, spiritual, pricologis dan kekerasan fisik lainnya. Sangatlah disayangkan mentalitas kearogaan dari seorang misionaris seperti itu yang mengorup dan memanipulasi Sabda Allah demi kepuasan diri.
Sementara dalam Injil Mateus, kita diajak untuk merenungkan betapa pentingnya pembinaan, secara terusmenerus, sikap kelemah-lembutan dan kerendahan hati sebagai cirri khas hidup kristis (yang menyelamatan) dari kaum baptis (semua orang Kristen), terutama dalam tugas pewartaan Khabar Gembira dari Allah. Bila dalam kesaksian tentang Khabar Baik Allag tidak dibarengi dengan sikap hidup yang baik dan sepadan maka, percayalah, bahwa pewartaan dengan cara itu tidak akan pernah tumbuh dan berbuah dalam hidup kongkrit umat. Perlu adanya keselarasan antara kata-kata dan perbuatan dalam memberikan kesaksian hidup pada setiap saat, baik itu dalam relasi kehidupan keluarga (komunitas) maupun dalam lingkup kerja dan di dalam kehidupan bermasyarakat. Disinilah panggilan dan perutusan kita, sekaligus tantangan, dan bukan rintangan, hidup keimanan dan kasih kita sebagai pengikut Kristus.
Kesetiaan: adalah suatu arus Roh (perasaan yang dalam) yang senantiasa bergerak ke arah persatuan: antara manusia dan sesamanya, manusia dan alam dan, akhirnya antara manusia dengan Penciptanya. Gerakan Roh itu sendiri akan mendapat tantangan, yang juga berasal dari dalam diri kita sendiri, yang disebut dalam sudup pandang psikologis sebagai kecenderungan jiwa (psikis). Begitulah terjadi dalam pribadi kita sendiri pertentangan antara dua kekuatan: kehendak serta harapan atau kemampuan Roh dan keinginan serta kecenderungan atau kekuatan jiwa. Santu Paulus memaparkan situasi itu dengan sangat jelas dalam suratnya kepada umat kristen de Roma: “Aku tidak melakukan yang baik yang kukehendaki, tetpi malakukan yang jahat yang kubenci” (Rm 7,19).
Apakah kita senantiasa setia dalam setiap tugas dan tanggungjawab kita: sebagai pribadi yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sebagai orang tua (antara suami dan isteri) dan anak dalam relasi kehidupan keluarga, dalam tugas karya setiap hari sebagai seorang professional yang diberikan kepercayaan khusus, dalam kepemimpinan kemasyarakatan dan gereja?
Kejujuran: adalah suatu panorama alam intern dari pribadi kita yang transparan, lurus, tulus lagi iklas. Orang yang setia adalah orang yang tulus-iklas. Orang yang tidak mampu berbohong karena suara Roh yang ada dalam dirinya tidak mengijinkan untuk itu. Orang yang hidup jujur adalah orang yang selalu berusaha untuk mendengarkan bisikan Roh dalam telinga batinnya. Sunguh iklaskah kita dalam hidup keseharian kita: di komunitas-keluarga, dalam instansi kepemerintahan, dalam gereja serta dalam kehidupan bermasyarakat dan bertetangga? Sediakah kita untuk mendengarkan suara Roh?
Kerendahan hati: adalah merupakan sikap batin yang sederhana, tidak arogan, tidak mencari puji-pujian, atau tidak berusaha untuk menonjolkan diri seolah-olah lebih (…) dari pada orang lain. Pribadi yang setia lagi jujur biasanya rendah-hati dalam relasi kehidupan kapan dan di mana saja ia berada da hidup. Orang yang rendah hati adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menguasai emosi diri, orang yang sabar, seimbang, tidak cepat marah, mampu menerima kritikan dari siapapun dan mengenal keterbatasan dirinya sendiri dan orang lain. Kiranya sebagai pengikut Kristus mau belajar secara terusmenerus untuk setiap hari menjadi semakin setia, jujur dan rendah-hati.
Fr. Lukas Betekeneng,CMM.