segunda-feira, 5 de março de 2012

SABDA ALLAH MEMBAHARUI CARA HIDUP DAN AKSI:

(Kej 22,1-2.9-13.15-18; Rm 8,31-34; Mrk 9,2-10)
A

dalah merupakan kekhasan dari dasar iman bangsa  Yahudi ialah: “shemah Israel “ (dengarlah,oh Israel). Bangsa Yahudi yang sebelumnya merupakan kaum nomade (orang yang hidup berpindah-pindah) yang terpencar, kini berhasil membentuk suatu identitas baru menjadi suatu bangsa yang terkumpul lagi menetap, bersatu dan terorganisasi adalah hasil dari sikap batinia yang senantiasa mau mendengarkan seruan Allah dan melaksanakannya. Aksi Allah tanpa reaksi manusia niscaya tak akan terjadi suatu apapun dalam kehidupan kita umat manusia. Makanya selalu dikatakan bahwa Allah dan manusia adalah merupakan satu kesatuan realita yang tak terpisahkan dalam hidup dan aksi di dunia ini. Itu berarti bahwa manusia itu sendiri merupakan pengetahuan Allah yang sedang beroperasi di alam ciptaan. Manusia, lepas dari iman keagamaan dan aliran kepercayaan yang dianuti, bila menjalin suatu hubungan yang erat dan dalam dengan Allah, dalam setiap tidakkan akan selalu nampak sintonia, suatu perubahan sikap mental dan tindakkan hidup yang memukau perassan dan mendatangkan hidup.
Pemahaman kepercayaan seperti itu diungkapkan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma (Rm 8,31-34). Menurut keyakinan Paulus, tak ada suatu kekuatan apa pun di dunia ini yang mampu memisahkan umat manusia ciptaan dari Allah pencipta, karena Tuhan sendiri telah membuktikan keterpihakkannya terhadap kita lewat kurban Puteranya Yesus Kristus di salib kasih tanpa pamrih demi keselamatan kita. Inilah yang merupakan wujud nyata dari perbedaan dari ideologi tentang Tuhan dan pengealaman iman akan Allah. Ide tentang Allah adalah proyeksi mental dari seseorang atau sekelompok orang (penuh dengan tendensi penguasaan) lagi penuh dengan manipulasi, sementara faktor iman akan Allah adalah merupakan pengalaman nyata dalam mana manusia berhadapan dengan Sang Misteri. Ide tentang Allah nampak dalam artikulasi retoris yang pada umumnya indah didengarkan tetapi kosong, gersang dalam kehidupan konkrit, tidak sesuai dengan realita Allah yang dialami oleh setiap hati insan manusia beriman.
Sikap dan tindakan mendengar dari batinia dan yang terwujud dalam perbuatan hidup konkrit yang renofatif dilukiskan dengan amat jelas dalam kisah tentang Abrahan. Dalam kultur primitif di wilayah Mesopotamia (Irak aktual) dan Akadis atau Ur (Kuwait aktual) orang-orang bersedia dan dengan kepasrahan berani mengorbankan anak manusia sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Kebiasaan seperti itu akhirnya direnovasi oleh Abrahan, sang Bapa iman dari segala bangsa (Kej 22,1-2.9-13.15-18). Sesuai iman penulis, Abrahan tidak lagi percaya akan tidakkan pengorbanan manusia kepada dewa demi mendapatkan berkat. Itu merupan suatu tindakkan kriminalitas yang, kendati dilakukan dengan nama Allah, Tuhan sendiri yang adalah kasih tanpa pamrih tidak pernah merestuinya. Iman penyakitan seperti itu perlu dibaharui. Itulah yang terjadi dengan sikap dan tindakkan renofatif dari iman yang manusiawi dari Abraham. Iman kepercayaan yang tidak memanusiakan manusia, yang tidak mendatangkan hidup dan kehidupan adalah gejala peradangan penyakit jiwa yang perlu mendapat perawatan serius.
Tindakkan Abraham yang serba baru itu sungguh menantang kita semua umat manusia yang beriman akan Allah yang hidup di seluruh muka bumi pada milenium ketiga ini. Betapa tidak, pada abat ke 21 ini, masih ada saja pengorbanan manusia demi mempertahankan ideologi agama mau pun politik, antara lain, masih terus saja terjadi peperangan yang dipromosikan langsung oleh dunia barat mau pun secara tidak langsung dengan memberikan dukungan alat-alat pembunuh masal maupun membuat provokasih, di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Eropa (Ingris, jerman, perancis, belanda, itali dan lain-lainnya). Nampaknya negara-negara itu sungguh maju dalam teknologi tetapi jiwa kemanusiaannya masih dikabuti oleh debu-debu mentalitas primitifisme yang animalis. Berkedok di belakang bendera kemanusiaan, demokrasi, hak asasi dan keamanan untuk melegalisasikan praktek-praktek kejahatan kemanusiaan secara terbuka dengan membunuh miliaran juta manusia dari berbagai negara. Pemerintah dari egara-negara itu serta masyarakatnya yang mendukung tidakkan kriminalitas para pemimpinnya, pada tubuhnya penuh dengan lumuran darah dari bermiliaran juta jiwa yang dibunuhnya. Orang-orang seperti itu amat tidak pantas dan sangat tak layak sedikitpun untuk berbicara tentang hak asasi, demokrasi, kemerdekaan, kebebasan, perdamaian dan lain-lain di panggung politik dunia. Para pemimpin dari negara-negara itu tidak memiliki kredibilitas moral dan etika kemanusiaan layaknya sebagai manusia yang sehat mentalitasnya dan yang memiliki budaya yang manusiawi yang pantas diteladani. Para pemimpin dan rakyat yang memiliki tangan kejahatan dan berdarah dingin dalam mempraktekkan kriminalitas, karena itulah makanya pakaiannya pun kotor bartaburan lumpur darah dari nyawa-nyawa yang bergelataran di suluruh penjuru bumi, amatlah perlu merefleksi diri, terlebih pada masa prapaskah ini. Nodak hitam yang melumuri tubuh dan pakaian dari para pembunuh hidup insan manusia merupakan lambang dari situasi kenajisan jiwa-jiwa kesetanan yang tak terkendali dari para pemimpin negara-negara yang mempromosikan kejahatan. Seharusnya mereka-mereka itu perlu duduk di meja pengadilan internasional karena kriminalitas kemanusiaan yang dilakukannya. Itukah sumbangan dari dunia maju untuk kehidupan manusia? Amatlah disayangkan karena masih ada saja manusia singa yang berbulu domba, yang hidup keliaran pada milennium ketiga.
Penginjil Markus mengisahkan tentang transfigurasi dari Yesus yang disaksikan oleh beberapa muridnya (Mrk 9,2-10). Dikatakan bahwa pakaian Yesus nampak putih berkilau bagaikan cahaya sementara hadir berbincang bersamanya, nabi Elias dan Musa. Apa sebenarnya pesan di balik kisah itu? Dengan ceritera itu sebenarnya penulis mau menyampaikan kepada para pembacanya bahwa Yesus dari Nazaret adalah figur pemimpin yang sungguh adil, jujur, manusiawi, bersih dan berwibawa, memiliki jiwa damai dan sehat, jauh dari segala jenis praktek kejahatan melawan kehidupan manusia. Yesus adalah seorang pemimpin yang memiliki tangan kasih yeng mempromosikan kehidupan dan karena itu tak ada pada tangan jiwa dan pakaianya jasmaninys percikan-percikan darah kejahatan. Hal itu dilambangkan lewat warna putih yang berkilau ibarat biasan cahaya. Dialah sungguh seorang nabi yang bijak, seorang pemimpin yang layak dipercaya, lebih dari Musa dan Elia.
Manusia Allah perlu bergumul dengan dirinya setiap saat untuk bertransfigurasi cara hidup dan kehidupannya di hadapan Allah dan manusia. Perluh dibina cara hidup yang bersih dan berwibawa, jauh dari segela maçam kejahatan: korupsi, permusuhan, perkelahian, peperangan, pembunuhan, penipuan dan lain lainnya. Kiranya umat kristen seluruhnya mampu merubah sikap mental dan membaharui diri dari hari ke hari, kiranya para pengikut Yesus mampu mendengarkan Sabda Allah yang hidup dan mau membenahi diri sesuai teladan hidup Yesus Kristus, mampu mentransfigurasikan hidup keimanannya kian hari kian dekat dengan sikap hidup kasih Kristus. Kiranya umat manusia semakin menjadi manusia –Allah yang hidup dalam keadilan, kejujuran dan damai.
________&&&________ Belo Horizonte, Brasil, 05/03-2012
Fr, Lukas Betekeneng,cmm.

Nenhum comentário:

Postar um comentário