domingo, 30 de setembro de 2012

ALLAH ADALAH BAIK DAN UMAT MANUSIA MEMPUNYAI KEBAIKAN

Allah adalah ideal mistik dari hidup kejiwaan manusia di “taman” surga, dan yang ini (insan manusia) merupakan realita tubuh keilahian dari Allah di alam semesta. Dengan kata lain, Allah merupakan dasar esensi (Sat) dari keberadaan insani kita dan umat manusia adalah wujud existencial (materi) dari Allah (gambar dan rupa). Di dalam dunia kehidupan insani ini tak ada seorang pun yang lebih baik dari yang lain (bukan para uskup, klerus atau pastor, bruder dan suster, bukan para pendeta, para kiai, para haji, bukan para biksu, para petapa, bukan pula kaum bapak dan ibu) kecuali Allah sendiri (Luk 18,18). Artinya bahwa, apa yang dikatakan Baik, itu bukan diukur dari peran, status, kedudukan sosial, gelar dan bentuk hidup (selibat populer,  kongregasional dan atau konjugal), tidak juga diukur lewat anutan iman keagamaan mana pun. Kiranya anda tidak termakan oleh ilusi ideologis keagamaan apapun yang dapat meracuni keimanan akan Allah yang Satu dan Kudus. Iman jauh lebih luas dan dalam (lebih kompleks) dari institusi keagamaan, manusia jauh lebih agung harkat dan martabatnya dari segalah praktek keimanannya dan Allah Pencipta jauh lebih sakral (suci lagi kudus) dari segala Kitab Suci dan rumah-rumah ibadah. Janganlah anda berpikir secara ilusi bahwa dengan memilih bentuk hidup selibat, baik itu bentuk selibat populer atau kongregasional laikal atau klerikal, berarti bahwa anda adalah yang terbaik dari yang lainnya. Jangan anda berpikir bahwa menjadi kristen itu berarti yang terbaik dari yang lain. Iman keagamaan dan segala bentuk praktek iman kepercayaan adalah hanya suatu bahagian terkecil dari kompleksitas dimensi manusia.
Allah itu bebas dan dengan bebas pula Ia mencurahkan Roh-Nya kepada semua umat manusia, entah ia dari golongan agama apa pun, dari aliran kepercaan mana pun, dari bentuk hidup dan peran yang bagaimana pun, sesuai kehendak bebas-Nya. Allah bertindak demikian karena semua umat manusia dipanggil menjadi kooperator Pencitpa dan diutus dengan tugas dan tanggungjawab mewartakan segala yang Baik dari Allah. Berbuat baik demi kabahagiaan hidup manusia di bawah terang, dorongan serta bimbingan dari Roh Kudus, dalam nama Allah, baik itu di dalam gereja mau pun di dunia luas, yang adalah merupakan wujud nyata dari manifestasi iman, bukanlah hak dan kewajiban atau kelayakkan serta tanggungjawab dari sekelompok orang dan atau gender, tetapi dari semua umat manusia, dari semua generasi, semua gender, semua golongan keagamaan dan aliran kepercayaan. Insan manusia yang adalah merupaka karya ciptaan Allah yang amat baik dari semua pencipaan, dipanggil dan diutus untuk berbuat kebaikan sebagaimana Allah itu Baik. Dengan perbuatan itulah wajah Allah dikenal dan namanya dimuliakan.
Kecemburuan dalam kehidupan ko-existensial adalah merupakan signal kearogaan jiwa, adalah tanda tanda awal dari otoritarisme dan radikalisme dari suatu tipe mentalitas yang animalis, diskriminatif dan primitif. Yesus dari Nazaret mengecam dengan sangat keras mentalitas seperti ini. Menurutnya, semua manusia yang memiliki motivasi baik kiranya menjalin kerjasama guna membangun suatu dunia baru yang semakin adil, jujur, damai, toleran dan persaudaraan. Mencintai, menghormati dan membantu seseorang berdasarkan apa yang orang punyai (agama, suku, status social, kedudukan) adalah merupakan aksi pamrih dan cinta dusta. Inilah tantangan khusus bagi umat kristen dan ummnya bagi semua umat manusia beriman akan Allah.
(L. Betekeneng)

Nenhum comentário:

Postar um comentário