sábado, 14 de janeiro de 2012

MENEMUKAN PENYELAMAT: Proses panggilan mengikuti Kristus

Renungan untuk hari minggu, 15/01-2012
(Yoh 1, 35-42)
B

erbeda dengan injil sinoptik, Yohanes penginjil memberikan suatu nuansa baru tentang awal dari panggilan sebagai pengikut Yesus. Kata kunci di sini adalah lihat. Itu artinya, penemuan atau menemukan; ditemukan dalam kehadiran dan hidup Yesus cirri khas penyelamatan, artinya orang yang secara spontam merelakan dirinya demi keselamatan hidup orang banyak, mereka yang dengan sukarela dan entusias bersaksi tentang hidup dalam damai dan kasih persaudaraan, yang dalam bahasa biblisnya seperti dikatakan: “Itulah Anak Domba Allah” (ay. 36). Anak domba di sini menjadi tanda kedamaian, tanda yang menyelamatkan. Sikap ini menjadi daya tarik panggilan untuk mengikuti Yesus, dan semua orang yang mau datang kepadanya, yang mau menetap dengannya tidak ditolaknya, sebaliknya ia diundang untuk Mencari pengalaman, diundang untuk mengenal: “marilah dan lihatlah”. 
Yesus memanggil para pengikutnya secara tidak langsung, itu artinya, dengan kesaksian hidupnya sendiri (lewat perkataan dan perbuatan). Kesaksian dari Yohanes pemandi, dengan menunjukkan kepada Yesus sebagai anak domba adalah, yang pertama, merupakan kesaksian kristologis: Yesus adalah Anak Domba Allah yang rela mengurbankan hidupnya sendiri demi keselamatan umat manusia; dan, yang kedua, sebenarnya penginjil mau menyampaikan kepada angota komunitas-Gerejanya bahwa Yesus adalah “Tanda Kurban baru lagi kekal dari Perjanjian Pemenuhan” antara Allah dan manusia, kurban Yesus, dengan itu,  mensuperasikan kurban “Perjanjian Pertama” dimana ditandai dengan darah dari anak domba sembelihan (cf. Kel 12,7).
Dalam Perjanjian Pertama, darah anak domba sembelihanlah yang menjadi tanda keselamatan bagi bangsa Israel, ketika di tanah Mesir; sementara itu, dalam Perjanjian Pemenuhan, darah dari Anak Allah sendirilah (Yesus Kristus) yang menjadi tanda keselamatan bagi Israel baru – dan semua mereka yang menerima Khabar Gembira Allah dan hidup sesuai ajaran-ajaran damai dan kasih yang membebaskan dan menyelamatkan dari Yesus orang Nazaret (cf. Mrk ,38-41).
Menurut Yohanes, cara hidup dan kepribadian dari Yesus sendiri sudah memiliki daya atraksi yang menarik per-hati-an orang banyak, yang mengundang dan mendorong kemauan atau memotifasi orang untuk mau mencari tahu lebih dalam tentang dirinya (ay. 38) serta alasan apa atau motifasi manakah (rahasia) yang membuatnya hidup demikian, dan sampai pada akhirnya orang memutuskan dengan rela untuk mengikuti dia di jalan hidupnya. Pertanyaan, “Di manakah engkau tingal”, dalam kontaks pemahaman injil Yohanes, kata ini (dalam bahasa yunani menein = menetap), memiliki arti yang amat luas dan dalam, dan bukan sekedar mencari tahu tentang di mana rumah dan/atau tampat tinggal belaka.
Begitulah konsep panggilan menurut penginjil Yohanes: mengikuti Yesus adalah orang-orang yang dengan rela lagi berani, yang mempunyai kemauan keras serta motifasi yang jelas lagi dalam, yang menerima kesaksian keselamatan (Khabar Gembira), yang mengikutinya di jalannya serta melihat dengan kritis dan memutuskan untuk menetap dengannya, dan pada akhirnya menjadi saksi hidup dari Yesus itu sendiri (menjadi alter Khristus = kristus yang lain). Hal ini menantang kita: apakah cara hidup dan relasi kita dengan sesama dan dunia memiliki daya tarik bagi orang lain untuk mau bergabung dengan kita? Apakah segala harapan dan doa-doa kita diterjemahkan dalam hidup konkrit harian yang sungguh selaras, dan yang memberi inspirasi serta motifasi bagi orang lain untuk diikuti? Tidak jarang hidup kita, karena terlalu ideal dan kurang riil, yang mengakibatkan orang jenuh dan akhirnya menjauh.
Pertanyaan dan undangan dari Yesus: “Apa yang kamu cari” dan “Mari dan lihatlah”, adalah merupakan ujian tentang kedalaman dan kejujuran dari motifasi dasar mengikuti Yesus. Hidup orang kristen setiap hari selalu ditandai oleh kesaksian yang pro-voka-tif akan kehadiran yang menyelamatkan: ”Itulah Anak Domba Allah”, untuk merangsang usaha orang-orang untuk tak henti-hentinya mencari dan selalu mencari “di manakah Yesus tinggal”, dan mengenalnya secara lebih dalam, sementara itu dari relung hati yang dalam dan melalui setiap situasi kehidupan sehari-hari, terdengung gema suara Allah yang secara terus menerus bertanya dan mengundang, “apakah yang kamu cari”?” Mari dan lihatlah”! pertanyaan dan undangan itu penting karena banyak kali motifasi dari pencarian kita akan yesus dan rencananya terkadang kurang jelas dan dangkal.
Yesus selalu hadir di tengah kita, dalam rumah tanggah kita, ada bersama kita setiap hari tetapi tidak jarang bahwa mata kita sering buta untuk melihatnya. Mudah sekali kita mengundang orang untuk bergabung dengan kita tetapi kita sering tidak mampu untuk menciptakan iklim kehidupan harian yang sehat lagi manusiawi untuk membuat orang merasa “at home”. Sering hidup doa kita tidak dibarengi dengan praktek hidup harian, ini karena doa kita bukan lahir dari pengalaman hidup pribadi tetapi dari ritus-ritus dogmatis yang indah tetapi kering kerontang, kosong lagi gersang. Itulah yang membuat kita tidak mampu untuk merealisasikannya dalan ralasi hidup harian, baik dalam keluarga, dalam komunitas gerejani mau pun dalam masyarakat.
_______&&&________
BH. Brasil, 15/01-2012
Fr. Lukas Betekeneng,CMM.

Nenhum comentário:

Postar um comentário