sexta-feira, 20 de janeiro de 2012

METANOIA DAN MENERIMA KHABAR GEMBIRA: Langkah awal panggilan menuju ke keselamatan

Refleksi Injil untuk hari minggu, 22/01-2012
(Mrk 1,14-20)
D

engan meregistrasikan tindakan kriminalitas politik dan religius yang terjadi dengan fakta penangkapan dari Yohanes Pemandi (ay.14), sesuai konsep teologis dari penginjil Markus, penulis sebenarnya mau menyampaikan kepada anggota komunitas-Gerejanya bahwa kenyataan itu merupakan suatu kejadian yang “pantas” untuk, secara simbolis, menandai akhir dari suatu momen yang “lama”, signal kegenapan dari waktu persiapan dan, sekaligus, merupakan awal dari masa baru kairotis, pendahuluan dari pewartaan karya mesianis, dimana perlu dibangun suatu cara hidup baru, yang semakin persaudaraan, dibangun hubngan hidup social di atas asas kekeluargaan yang lebih sehat dan manusiawi dalam mana keadilan, kejujuran, hak asasi, kebebasan yang bertanggungjwab, toleransi dan kedamaian mempunya tempat penting dalam kehidupan bersama. Karena itu patutlah bahwa yang tua perlu dan harus turun dari takta kekuasaan serta keluar dari arena permainan agar yang muda dapat naik ke tangga tugas dan masuk ke panggung perutusannya.
Menurut Markus, Jesus baru memulai tugas pewartaannya setelah episode penangkapan Yohanes Pemandi, maka itulah sebabnya penting bahwa ia mengawali misi pewartaannya dengan mengkonfirmasikan kepenuhan dan kelayakkan tugas persiapan yang dilakukan oleh Yohanes Pemandi sebagai perintis jalan bagi Mesias, untuk itulah makanya Ia berseru: “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Ubahlah cara hidupmu dan percayalah kepada Injil” (ay. 15). Jesus, sesuai penginjil Markus, adalah Kerajaan  - kedamaian, kegembiraan Roh, keadilan, kebebasan dan kebahagiaan – Allah dalam rupa manusia (cf. Is 52,7; Ef 2,14; juga, Kol 1,15). Dengan dimulainya missi Yesus, tirai kehidupan baru mulai menguak, kerajaan Allah menjadi satu kesempatan terbuka untuk dirangkul oleh semua yang mengharapkannya, karena sudah begitu dekat dan dapat dilihat di antara kita, terasa nyata lewat perkataan kehidupan dan tindakkan keselamatan dari Yesus orang Nazaret. Untuk mengambil bahagian dalam kerajaan Allah, diperlukan dua hal: pertama, merubah sikap hidup (metanoia = bertobat), itu artinya, merubah segala mentalitas serta  cara-cara kehidupan serta relasi yang lama, atau tindakkan-tindakkan yang kurang manusiawi; dan, yang kedua, percaya kepada Injil Allah yang hidup dan membebaskan, yang diwartakan oleh Yesus Kristus. Yesus mulai mengawali misinya dari Galilea, tanah asalnya sendiri, sampai ke Judea dimana ditangkap dan dihukum mati di salib; sementara Yohanes Pemandi adalah dari wilayah Judea (Ein-Karem, + 10 km dari Yerusalem), tetapi menetap di padang gurun sampai ditangkap dan mati dengan dipenggal kepalanya.
Mengapa Yesus harus memulai misinya di Galilea dan bukan di Judea? Apa benar bahwa dalam proses panggilan murid-murid yang pertama tidak terjadi suatu dialog apapun seperti yang ditunjukkan oleh penginjil? Pesan apa yang sebenarnya terselip di belakang kisah panggilan yang serba monolog dan otomatis itu? Galilea, secara politik-religius pada zaman Yesus, adalah wilayah yang sangat didiskriminasikan oleh orang-orang dari Judea. Dianggap sebagai daerah kafir, karena semangat karismatisnya, tidak setia terhadap tradisi dan pembangkang. Yesus memulai misi pewartaannya di Galilea sebagai satu isyarat nyata bahwa Dia sungguh mementingkan daerah asalnya lebih dari pada wilaya Judea. Dan juga mau menunjukkan bahwa bangsa Israel terus berada di gengaman tangan penjajah Roma, namun di wilayah Galilealah tersimpan “harta” karun karismatis Allah, di sanalah lahir Mesias yang dijanjikan Tuhan dan, sekaligus di tanah asalnya pulalah ia ditolak (cf. Luk 4,24).
Sesuai teks, Yesus memanggil para muridnya dengan amat tepat lagi jelas – namun tanpa ada dialog apapun sebelumnya antara mereka – dan mereka pun dengan segera meninggalkan segala seuatunya lalu mengikuti dia – tanpa ada komentar sedikitpun. Detail ini, bagi penulis, tidak terlalu penting, maka itu disingkirkannya untuk manggarisbawahi makna yang lebih dalam dari sudut pandang teologis panggilan itu sendiri serta kedalam relasi antara yang memanggil dan dipanggil. Meningglkan sampan, pukat, keluarga dan teman sekerja, di sini, sebenarnya mau mengekspresikan kesigapan atau kesiapsediaan dari yang dipanggil untuk mengikuti dan mengemban tugas serta tanggungjawab perutusan. Konsekwensi panggilan itu akan dikembangkan selama dalam perjalanan hidup bersama, mulai dari Galilea samapi Judea, dan akhirnya sampai ke ujung bumi. 
Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian kita dalam proses panggilan: pertama, untuk memanggil para pengikutnya, Yesus pergi bertemu dengan mereka, masuk dalam situasi hidup harian mereka untuk mengenal realita dengan lebih dalam; kedua, dalam suasana kekeluargaan dimana saling mengenal satu sama lain, di situlah momen yang tepat untuk mulai mangundang (memanggil) untuk dijadikan teman sekerja; ketiga, dengan pertemuan dan dalam iklim kekeluargaan serta saling percaya maka lahirlah reaksi semangat ketertarikkan untuk mengikuti.
Yesus berjanji bahwa akan menjadikan mereka penjala manusia. Dengan itu Yesus memang berminat untuk memberikan arti baru secara teologis dari fungsi lama mereka: menjadi “pukat Tuhan” untuk menghimpun umat manusia dalam bahtera kerajaan persaudaraan yang dibangun berdasarkan iman dan kasih.
Mengikuti Yesus artinya tinggal bersama dia, membentuk satu komunitas persaudaraan denganya, membiarkan diri untuk dituntun olehnya, tumbuh dan berkembang secara dewasa dan seimbang dalam keluarga iman yang baru, yang dibuka lewat salib kehidupan dan kebangkitannya, yang diwartakan ke seluruh penjuru bumi.
_______&&&________
Belo Horizonte – Brasil, 21/01-2012
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

Nenhum comentário:

Postar um comentário