sexta-feira, 3 de fevereiro de 2012

METODOLOGI KEPEMIMPINAN YANG DEWASA DAN BERTANGGUNGJAWAB: VISI, AKSI, REVISI UNTUK RE-AKSI

Refleksi Injil untuk hari sabtu, 04/02-2012
(Mrk 6,30-34)
S

eseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang dewasa dan bertanggungjawab tak pernah akan merasa kecil atau pun terhina bila dikritik atau dievaluasi tugas pelayanannya, baik itu ketika menempati posisi sebagai pemimpin atau pun sebagai yang dipimpin. Suatu aksi misi tanpa visi dan revisi, aksi itu tidak akan mencapai hasil yang memuaskan, atau tidak sesuai dengan yang direncanakan (yang diharapkan). Ini berarti bahwa, revisi (atau, evaluasi dari aksi dan metodenya) merupakan bahagian strategis metodologis yang tak terpisahkan dari cara kerja orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang dewasa dan bertanggungjwab, kapan pun dan dimana serta di bidang kerja kehidupan apapun. Apa lagi bila itu berkaitan dengan tugas dari suatu misi. Visi, aksi misi, revisi untuk re-aksi, semuanya itu tentunya merupakan kunci sukses kerja bagi mereka-mereka yang mau berhasil dalam hidup profesionalnya. Revisi merupakan evaluasi dari visi awal dan rencana strategis metodologis yang diterapkan dalam aksi pertama, merefleksikan tentang semua kerberhasilan maupun kegagalan dari kerja awal agar dapat dibuat kembali (inovasi) rencana strategis baru untuk re-aksi dengan metode-metode yang lebih sesuai hingga dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Dari aspek kebijakkan coordinasi kerja seperti itulah para penginjil mengapresentasikan Yesus sebegai seorang Gambala baik sebagaimana didengungkan oleh para nabi. Sebagai seorang gembala yang baik lagi bijaksana serta dewasa lagi bertanggungjawab, selalu sibuk, tidak hanya untuk memperhatikan kehiduppan umat Allah pada umumnya, tetapi juga melihat kepada kebutuhan beristirahat bagi para pengikutnya untuk dapat mengevaluasi kerja perutusan serta merencanakan metode karja baru. Kata “istirahat” di sini, sudah mengantisipasi cara kerja dari seorang gembala yang baik lagi bijak (ay. 34) dalam mana sesuai dengan ungkapan nabi Yehezkiel 34,15 dan Mazmur 22,2, yang mengatakan bahwa Allah, yang adalah Gambala utama, menuntun sendiri kawanannya ke padang rumput yang hijau untuk dapat beristirahat. Waktu istirahat inilah yang sebenarnya dipergunakan oleh Yesus bersama para muridnya untuk membuat evaluasi dari “tugas misi yang dipercayakan kepada mereka” (6,6b-13).
Penginjil Markus mengisahkan tentang keinginan para murid untuk menceriterakan pengalaman kerja mereka kepada Yesus, sesuai yang diajarkan olehnya, setelah kembali dari tugas misi. Karena begitu banyaknya orang yang datang mengerumuni mereka maka, untuk dapat merealisasikan sharyng itu, Yesus meminta mereka untuk pergi mencari tempat yang cukup aman di seberang danau Genazaret (danau Galilea). Rencana mereka justru diketahui oleh masa dan akhirnya didahului di seberang dengan berjalan kaki untuk menantikan Yesus bersama para muridnya. Kehadiran masa yang sepertinya tidak ingin melepaskan kelompok Yesus dan para muridnya, justru menimbulkan rasa prihatin dari Yesus dan akhirnya sampai terharu, karena melihat keadaan masa seperti itu, yang lari ke sana-sini mengejar mereka, yang oleh Yesus diibaratkannya “bagaikan kawanan yang tidak mempunyai gembala” (Bil 27,17; 1Raj 22,17; Za 10,12). Nabi Yeremia pernah menggugat sikap ketidakpedulian dan tidak bertanggungjawab dari para pemimpin yang bekerja secara asal-asal (Yer 6,14; 8,11).
   Ketergerakkan hatinya terhadap situasi masa yang terlantar itu membuat Yesus harus menunda waktu istirahatnya untuk dapat melayani kebutuhan orang banyak. Seperti Bapa yang juga terus bekerja maka ia pun harus melipat-gandakan waktunya untuk berkerja, demi kasih (Yoh 5,17). Sikap pengorbanan tanpa pamrih ini sungguh menggambarkan cinta tak terbatas dari seorang ibu yang penuh rasa tanggungjawab terhadap kebutuhan anak-anaknya. Sikap Yesus inilah merepakan tantangan konkret bagi kita, pada umumnya dan para pemimpin khususnya. Bagaimana sikap kepemimpinan kita, apakah selalu terevaluasi atau tidak? Apakah anda bersedia untuk dikritik dan atau dievaluasi? Bagaimana sikap perasaanmu sebagai pemimpin terhadap mereka-mereka yang membutuhkanmu?
_________&&&__________
Belo Horizonte – Brasil, 04/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

Nenhum comentário:

Postar um comentário