sábado, 18 de fevereiro de 2012

MANUSIA: PEMBAWA RAHKMAD DARI PENCIPTA ILAHI

(Mrk 2,1-12)
Refleksi Injil untuk hari minggu, 19/02-2012
M
anusia bukan diciptakan sebagai makluk panada rahmad belaka, atau pula ibarat pengemis buta lagi lumpuh yang hanya menunggu rahkmad sepenuhnya dari uluran-uluran tangan  keprihatininan, dari surga dan dari bumi. Bahkan manusia dengan keadaan fisik ini pun dibekali dengan kemampuan kealahan dari Pencipta kudus. Asal-usul manusia pun bukan pertama-tama dari debu tanah liat melainkan, sebelumnya, adalah dari bahagian keilahian Sang pencipta alam semesta. Ia dikirim ke dunia bukan ibarat karung kosong yang dilemparkan begitu saja ke alam terbuka, tetapi sebagai mahkluk yang dibekali secara lengkap dengan bakal-bakal bakat dan ketrampilan khusus untuk dapat mengolah hidup di alam ciptaan. Maka itu, sebelum ditempatkan di dunia ini, ia sudah dilengkapi dengan “segumpal otak” untuk berpikir secara kritis, logis dan selaras sesuai norma kehidupan insani yang berbudi luhur; ia juga diberikan “sebuah hati” untuk merasa, menelaah dan memahami secara dalam, sehat dan seimbang sebagaimana layaknya anak-anak Allah; dan pada akhirnya, ia pun diserahkan “sepasang ginjal” untuk merangsang, menggairahkan dan membangunkan semangat juang tanpa pamrih demi pelestarian hidup dan kehidupan, baik pribadi mau pum bersama sebagai kawan sekerja Allah di muka bumi ini. Karena itulah makanya ia diciptakan segambar dan serupa dengan Pencipa, dipanggil untuk menerima kemampuan hidup dan kehidupan lewat Roh Allah dan diutus untuk beroperasi, meneruskan karya penciptaan Tuhan sampai sepanjang masa. Dia adalah duta untuk membawah Rahkmad Allah bagi sesama.
Sikap penolakkan dari kaum levi dan kaum farisi terhadap perkataan dan perbuatan dari Yesus membuktilan bahwa mereka kehilangan keaslian identitas mereka sebagai bangsa terpilih oleh Allah. Itu artinya, bahwa manusia dan Allah, sesuai pemahaman dari nenek moyang (spiritualitas asli) sejak berjuta-juta tahun sebelumnya, bukanlah merupakan dua realita yang saling beroposisi tetapi sebaliknya berkomposisi, saling keterkaitan, mustahil adanya satu tanpa keberadaan yang lain. Singkatnya, manusia dan Allah adalah dua bahagian dari satu realita (atau Sat) yang saling melengkapi.
Dua pesan utama dapat ditemukan dalam teks ini: pertama, “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di dunia ini” (ay.10), dan yang kedua, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan pulanglah ke rumahmu” (ay.11). Kedua pesan itu didahului dengan satu sapaan kekeluargaan: “Hai anakku”(ay. 5). Penginjil juga mengatakan bahwa Yesus mulai menyapa secara akrab orang lumpuh tersebut setelah melihat “iman orang-orang” – keempat pengusung (sensus fidelium = situasi batin kolektif yang penuh rahkmad). Artinya bahwa sapaan kekeluargaan itu tumbuh dari dasar iman kolektifitas dan iman pribadi yang pada akhirnya membuahkan penyembuhan bagi orang yang tadinya lumpuh. Menurut penginjil Markus, bila semua orang dapat memupuk hidup keimanannya yang solider, sehat, selaras, toleran, adil lagi bijaksana dan dalam semangat kekeluargaan maka, dengan kekuatan bersama itu, dapat dihindari berbagai jenis kelumpuhan hidup psikoemosional dan moral/spiritual, baik pribadi maupun bersama, baik di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam komunitas religius (dalam kehidupan keagamaan) maupun dalam semua instansi kepemerintahan. Karena pengalaman iman membuat kita semua saudara dari satu keluarga kudus Allah.
Dalam Kitab Kejadian dikisahkan bahwa Allah setelah membentuk tubuh manusia dari tanah liat segambar dan serupa dengannya (cf. Kej 1,26), dihembuskannya ke dalam tubuh itu nafas hidupnya sendiri dan tubuh itu pun mulai mendapat kehidupan (cf. Kej 2,7). Itu artinya bahwa di dalam tubuh manusia itu sendiri terdapat nilai harkat dan mertabat keilahian dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Dengan kata lain, manusia adalah Roh Allah dalam bentuk tubuh yang hidup dan beroperasi di muka bumi. Santu Paulus telah mengatakan hal itu dengan amat jelas bahwa tubuh manusia adalah kenisah Roh Allah (cf. 1Kor 6,19). Bila hal itu benar maka hidup dari manusia (pikiran, perasaan, keinginan, perkataan dan tindakan) seluruhnya dituntun oleh Roh Allah sendiri. Manusia seyogianya mencari semata kehendak Allah dan melaksanakannya, karena untuk itulah ia diutus: “Makananku adalah melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku dan melaksanakan pekerjaannya” (Yoh 4,34). Itulah misi dari semua orang beriman. Manusia dimampukan dengan Rahkmad kehidupan Allah dan diordenasikan (diberikan kuasa) untuk mewakili (sebagai kooperator) Allah di dunia guna meneruskan karya penciptaannya, termasuk kuasa untuk mengampuni, kelemahan dari diri sendiri dan sesama.
Pesan yang kedua adalah merupakan aksi pembebasan dari manusia itu sendiri, aksi dari restrukturasi, reintegrasi. Iman yang sejati adalah iman yang sehat, yang menyelamatkan, yang membebaskan, iman yang membangun, yang membuat orang lain memiliki kepercayaan diri untuk berjalan di atas kakinya sendiri (protagonis). Itulah iman yang dewasa, iman yang benar. Orang-orang yang percaya akan Allah tetapi dalam hidup konkretnya menyusahkan sesama manusia, berusaha untuk melukai baik secara moral psikologis maupun fisik dan spiritual, bahkan sampai merusak harta benda dan mencabut nyawa seseorang adalah kafir, perbuatan itu pertanda iman penyakitan yang bertopeng agama. Orang-orang semacam ini tak pantas disebut anak Allah yang Kudus tetapi keturunan ular beludak, adalah anak-anak setan, musuh Allah. Inilah tantangan bagi semua umat manusia iman di seluruh penjuru bumi pada milenium yang ke tiga ini. Manusia beriman kudus mustahil ada tersimpan di dalam pikiran, perasaan dan kehendaknya hal-hal kejahatan yang mendatangkan musibah hidup bagi sesama manusia.
_______&&&________
Belo Horizonte – Brasil, 18/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

Nenhum comentário:

Postar um comentário