Refleksi Injil untuk hari minggu, 05/02-2012
(Mrk 1,29-39)
M |
ustahil adanya keselamatan tanpa penyelamat. Manusia pada hakikatnya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa ada campur tangan – langsung atau pun tidak langsung – dari orang lain. Itu artinha, bahwa manusia itu adalah sepenuhnya makluk sosial; dia adalah suatu individu interdependensi (saling ketergantungan), maka itu sangat tidak masuk akal bila ada orang yang berkata bahwa ia tidak membutuhkan orang lain. Individualisme, tentunya, merupaka korupsi, suatu tumor yang menggerogoti sel-sel tubuh persatuan dan kesatuan hidup kemanusiaan yang sehat dan damai. Individu, oke. Tetapi individualisme, tidak.
Hidup di dunia ini adalah bersifat sejenak, suatu persinggahan sebentar, hanyalah suatu transisi. Selain bersifat sementara, hidup ini juga selalu berada di antara dua situasi, yang diharapkan juga yang tidak diharapkan, selalu dibayangi oleh saat-saat yang penuh kegembiraan dan penderitaan, tawa dan tangis senantiasa menemani pesiarahan hidup existensial kita selama di dunia ini. Begitualah kisah pengalaman refleksi dari kitab Ayub tentang makna dari hidupnya (cf. Ayb 7,1-4.6-7). Menurutnya, hidup ini ibarat angin yang berhembus, lagi pula hidup selalu dliputi oleh perasaan kegelisahan, siang dan malam (cf. ay. 4. 7). Penderitaan, dari sudut pandang psikologis, adalah suatu pengalaman yang pedih, tetapi, dari segi spiritual, ia juga sekaligus merupakan gerbang dari alam kehidupan transendental, jalan menuju ke kemanusiaan yang semakin manusiawi dan semakin dewasa, semakin memahami makna dari hidup itu sendiri dan pula semakin solider terhadap situasi. Orang yang pernah mengalami kepedihan hidup dan belajar dari padanya akan memahami apa artinya menderita dan karena itu akan menjadi lebih dewasa, lebih toleran, lebih manusiawi lagi lebih siap untuk menerima kenyataan dan menghidupinya dengan suatu situasi batin yang lebih penuh harapan dan kerpercayaan diri serta setia akan belaskasih Allah. Semangat hidup solider, dalam konteks ini, menjadi suatu sumber kebahagiaan (atau, Khabar Gembira Allah) yang sangat dinanti-nanti oleh semua orang. Solidaritas itu sendiri menjadi sejenis salep peringan bagi derita jiwa, baik itu derita akibat beban imajinasi (kegelisahan atau kesepian batin) yang tak tertanggung, maupun merupakan tanda kesementaraan atau kelemahan alami dari kondisi fisik, signal natural dari ketidaksempurnaan.
Pewartaan Khabar Gembira Allah – melalui perkataan yang disertai perbuatan, misalnya, seperti sikap hidup yang solider – bukan menjadi tanda kemegahan diri dari seseorang atau sekelompok orang tertentu, tetapi merupakan tugas dan tanggungjawab dari semua utusan Tuhan, tanggungjawab dari kita semua, laki-laki dan perempuan. Bukan hal paksaan, melaikan merupakan kesadaran Roh, kedewasaan jiwa, wujud dari iman, harapan dan kasih. Seperti di ekspresikan dengan amat jelas oleh santu Paulus yang merasa tidak tenang jiwanya bila tidak mewartakan Berita Gembira (Injil) Allah: “Celakalh aku jika aku tidak mewartakan Injil” (cf. 1Kor 9,16). Berita Gembira Allah, di sini, pertama-tama bukanlah makanan ataupun minuman, melainkan situasi ketenteraman batin dikarenakan oleh terjaminnya, antara lain, keadilan sosial, kebebasan secara integral, hak asasi bagi setiap individu serta semangat hidup solidaritas yang pedagogis, yang mendidik, yang membebaskan orang untuk semakin menjadi dirinya. Semuanya itu adalah merupakan wujud dari cinta yang berbelaskasih.
Ada tiga makna dari penderitaan: pertama, penderitaan dipahami sebagai isyarat untuk hidup lebih berhati-hati. Artinya bahwa suatu penderitaan yang diakibatkan oleh kelalaian pribadi atau orang lain. Misalnya, kecelakaan lalulintas, terjadi diakibatkan oleh kelalaian dalam mengemudi, baik itu dari pihak yang satu maupun dari yang lain. Yang kedua, penderitaan dipahami sebagai faktor alam. Itu artinya, bahwa dunia ini, pada hakikatnya, dibentuk oleh berbagai jenis kekuatan kehidupan yang selalu dalam konflik. Sesuai hukum alam, dalam knflik kekuatan itu yang lemah akan menjadi kurban dari yang lebih kuat. Sebagai contoh, misalnya seseorang menderita karena diserang oleh sejenis penyakit, atau terjangkit oleh suatu bakteri yang menyerang sel-sel tubuh. Dan yang ketiga, penderitaan dihayati sebagai bahagian dari proses persiapan untuk kembali ke alam baka. Misalnya penderitaan karena ketuaan, dalam mana fisik kian hari kian lemah dan tidak mampu lagi untuk melakukan sendiri apa yang menjadi kegemaran. Ini membuat orang menderita karena orang menjadi dependensi, selalu mengharapkan uluran tangan orang lain. Poin pertama dan kedua adalah suatu realita yang dapat diatasi dengan perawatan medis, tetapi situasi yang terakhir tidak dakan dirubah keadaannya, perlu diterima dengan sadar dan dewasa serta percaya akan rahmad kasih Allah, yang adalah satu-satunya sumber kekuatan dan harapan serta hiburan.
Penginjil Markus mengisahkan tentang Yesus yang mengulurkan tangan kasihnya sebagai tanda solidaritas terhadap orang-orang yang menderita dan yang membutuhkan pertolongan, dan ia membantu membebaskan mereka dari penderitaanya (tetapi tidak semuanya). Penginjil juga mengatan bahwa selain menyembuhkan penyakit, Yesus juga mengusir roh-roh jahat, kali ini bukannya di sinagoga tetapi di rumah keluarga. Ini berarti, problem kehidupan tidak hanya terjadi di ruang kehidupan umum (rumah ibadat), melainkan merambat sampai ke dalam ruang kehidupan privat (keluarga). Markus memaparkan langkah penyembuhan dari Yesus terhadap ibu mertua Simon dalam suatu nuansa sungguh religius: “Yesus mendekatinya, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia”. Mazmur 73,23 mengatakan bahwa Allah, dengan kekuatannya akan memegang tangan kanan umatnya, membimbingnya dengan nasihat dan sampai membawanya kepada kemuliaan. Cara penulisan penginjil Markus di sini, untuk mengingatkan kepada komunitas kristen tenteng kebangkitan (5,41; 9,27).
Penyembuhan yang dilakukan oleh Jesus, sesuai penginjil Markus, dilakukan setelah doa bersama di sinagoga dan diakhiri juga dengan doa secara pribadi. Penginjil juga menggarisbawahi bahwa roh-roh jahat sungguh mengenal identitas original dari Yesus. Kita semua dipanggil untuk hidup secara solider dengan semua orang demi membangun suatu relasi kasih Dan kehidupan yang semakin sehat dan damai, kini, saat ini dan di sini.
________&&&________
Belo Horizonte – Brasil, 05/02-2012
Fr. Lukas Betekeneg, CMM.
Nenhum comentário:
Postar um comentário