domingo, 6 de novembro de 2011

PROKLAMASI TENTANG KEBAHAGIAAN

Refleksi dari Injil untuk hari mingu, 06/11-2011
(Mat 5,1-12)
D

ari mana sebenarnya Jesus dari Mateus mengambil inspirasi untuk memproklamirkan kebahagaan bagi mereka yang kecil dan tertindas, yang lapar dan haus, yang miskin dan bersedih di dalam komunitas-Gerejanya? Apakah “kerajaan” persaudaraan masa depan, dimana Allah yang esah itu akan menjadi segalanya dalam semua (1Kor 15,28), disiapkan khusus untuk mereka-mereka yang di atas ini? Siapa sebenarnya mereka – mereka yang disebut pauperis spiritu (latin) atau, ptóchoi tô pneumatic (yunani), atau dalam bahasa indonésia kita yang baik disebut roh kemiskinan? Siapa mereke itu yang disebut qui lugent (latin) atau, penthountes (yunani) atau, mereka yang sedang menjerit atau maratap kepedihan?
Jenis literatur dari ucapan kebahagiaan seperti ini bukanlah hal baru, artinya sudah cukup dikenal dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama, yakni terdapat dalam dua bentuk: ucapan berbahagia (karakter sapensial) dan ucapan selamat (karakter eskatologis). Sebagai contoh, dapat dibaca dalam Mzm 1,1-2., yang isinya demikian: “Berbahagialah orang yang tidak menurut nasihat orang jahat, dan tidak berdiri di jalan orang berdosa, tidak pula duduk bersama para pencemooh; tetapi yang kesukaannya adalah hukum Tuhan, dan siang dan malam merenungi perintah-perintah-Nya”. Jenis ini biasa digunanakan untuk menyalami umat-umat yang setia dalam memperhatikan hukum Tuhan. Hidup kesetiaan yang penuh dengan observasi, dipandang sebagai situasi yang mendatangkan kebahagiaan hidup. Sementara ucapan selamat yang bersifat eskatologis ditujukan kepada mereka-mereka yang akan diselamatkan oleh Tuhan pada saat intervensi penyelamatan-Nya pada momen akhir kehidupan. Sebagai contoh dari ucapan jenis ini, dapat dibaca dalam kitab nabi Daniel (Dan 12,12), yang isinya sebagai berikut: “Beruntunglah orang yang menanti-nanti samapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari”. Keselamatan masa depan, menurut nabi ini, adalah sepenuhnya merupakan janji Allah. Sampai saat ini para ahli Kitab Suci belum dapat menjelaskan arti dari angka figuratif 1335 yang digunakan oleh nabi.
Kebahagiaan bagi yang memiliki roh kemiskinan. Ada orang yang mengatakan bahwa kemiskinan sebagai suatu semangat hidup adalah merupaka tanda kebodohan dan kedunguan karena, menurut mereka, orang yang normal tidak akan melihat kemiskinan sebagi situasi yang dapat mendatangkan kebahagiaan, tubuh dan jiwa. Bila hidup penuh kemiskinan sebagai syarat menuju kebahagiaan maka Yesus sendiri tidak termasuk dalam kelompok ini, karena dia sendiri bukan miskin, kelompoknya memiliki kecukupan fasilitas yang diberikan oleh orang-orang untuk kebutuhan hidup, dia sendiri dan para murid-muridnya. Secara intelektualpun dia tidak tergolong miskin dalam kalangannya.
Maksud dari Yesus di sini tentunya bukan ini, tetapi semangat dari tidak keterikatan hati pada materi seolah jaminan yang pertama dan utama bagi suatu hidup yang penuh dengan kebahagiaan, kini dan akan datang. Artinya bahwa hati kita perlu dibebaskan dari belenggu ketamakkan akan mengumpulkan harta seolah dialah yang membuat kita bahagia. Tindakkan pembebasan diri dari rasa keterikatan hati pada harta kekayaan adalah merupakan kebijakkan iman yang dalam dan dewasa. Hanya orang yang bijak seperti inilah di dalam jiwanya terdapat rasa kebebasan dan kebahagiaan yang murni dan dalam.
Kebahagiaan bagi yang kini sedang dalam kesedihan. Apakah ada orang yang tengah dalam kesedihan yang begitu dalam, mampu untuk tertawa dengan begitu gelaknya dalam kebahagiaan? Bila ada, maka mungkin orang ini perlu dibawah segara ke rumah sakir jiwa untuk ditolong. Hal seperti ni memang merupakan jenis bahasa umum yang dipakai oleh setiap pembimbing spiritual yang sungguh bijak dan dewasa bahwa, memang perlu ada sesuatu dalam diri manusia yang harus mati sebelumnya agar bisa memungkinkan yang baru dapat lahir (cf. Yoh 12,24). Hidup dan mati, merupakan dua kutub yang meliputi seluruh hidup exixtensial kita. Derita dan tangis memang merupakan suatu bahagian pengalaman hidup yang pahit dari setiap kita, tetapi sekaligus situasi itu pula merupakan hal yang mendidik kejiwaan untuk kita dapat memahami dengan lebih dewasa dan dalam bahwa hidup di dunia ini adalah sementara. Kita memang perlu mengatasi kecenderungan keegoan dalam kaitannya dengan pengidolaan dari egositasi diri. Pengidolaan dari egositasi inilah yang membuat kita tak mampu menahan emosi diri bila mengalami sesuatu kehilangan dalam hidup.
Kegembiraan batin, yang adalah bahagian natural intern jiwa dan bukan hal kausal extern, segera akan kembali normal, dan dengan itu memungkinkan rasa senang dan bahagia dengan sendirinya bila hidup kita sudah terlepas dari belenggu idola egositas. Pemahaman itulah yang membuat Yesus percaya dan karena itualah makanya ia berkata: “Berbahagialah kamu yang kini menangis karena kamu akan dihibur” (ay.4). Memang perlu kesabaran dan perjuangan secara terus-menerus untuk dapat menguasai diri dari segala kecenderungannya yang tidak membantu kita untuk tumbuh secara sehat dan dewasa.
Kebahagiaan bagi yang lembut hati. Pada zamannya Isaac Newton (1643-1727) sistim planet bumi kita ini dipahami sebagai suatu “monarki solar” (monarki matahari) atau bintang-bintang (antariksa). Menurut ilmuwan Inggeris ini, mataharilah yang memberikan perintah kepada planet-planet lainnya dan mereka hanya bisa taat dan menjalankannya sesuai apa yang diperintahkan. Artinya bahwa semua keberadaan dan hidup, semua dinamika dari planet-planet itu tergantung sepenuhnya dari matahari. Ini adalah merupakan “rezim kekuasaan dan ketaatan”. “Perintah, bagi mereka yang mempunyai kekuasaan, dan taat bagi mereka yang mempunyai kesadaran”; begitulah kata pepata lama. Adalah rezim sentralisasi kekuatan, monopoli kekuasaan. Matahari merupakan kekuatan mutlak, otoritas satu-satunya, raja diatas segala raja. Pandangan itu berpengaruh sampai pada refleksi teologis nan politik (terlebih sejak akhir abad ke XV dan XVI), sampai pada kehidupan keluarga serta praktek hidup keimanan dalam gereja dan dunia: rezim kehidupan monolgal dan paternalis, maskulinisme dan sentralisme. Tugas para pemimpin – dunia Dan ágama – diasosiasikan dengan matahari yang satu-satunya berkuasa untuk memerintah, menuntun dan mengambil keputusan. Tugas ini, di dalam keluarga dipercayakan kepada suami.
Pemahaman planet bumi yang monarkis dan mekanis yang berpusat pada satu-satunya kekuatan yang tersentralisasi pada matahari itu mulai mengalami krisis setelah Albert Einstein (1879-1955) mempublikasikan artikelnya yang ketiga pada tahun 1905, yang dikenal secara populer dengan nama: “Teori tentang Relativitas Terbatas”. Menurut Einstein, bukanlah matahari yang merupakan kekuatan satu-satunya dalam memberikan komando kepada planet-planet lainnya, melainkan setiap planet itu memiliki kekuatan grafitasi tersendiri, artinya sangat indenpenden sekaligus saling memberikan pengaruh satu sama lainnys (interdenpendensi).
Adalah merupakan momen penting dalam pergeseran pemahaman sistim kehidupan planet bumi dari monosentralsasi (monarki matahari) menjadi multisentralisasi (kosmokrasi = demokrasi kosmos). Pergeseran dari monokuasa atau monopotensial yang mekanis dan sentralisasi menjadi multipotensial yang organis dan desentralisasi. Dari pemahaman teknik “mesin solar” (dominasi dari tenaga matahari) menjadi konsep kehidupan kosmis universal interdependensi.
Seperti teori dari Newton mempengaruhi seluru cara hidup dan relasi yang sentralisasi dan mekanisasi, baik dalam politik, social, ágama dan keluarga, hal yang sama juga terjadi dengan pandangan ilmu dari Einstein, memberikan pengaruh langsung (kalau bukan satu-satunya, paling tidak memperkuat situasi pergeseran atau krisi yang sedang terjadi) dalam praktek kehidupan konkrit, baik itu di dunia politik dan sosial maupun dalam sistim kehidupan agama sampai pada pemahaman tentang relasi kehidupan keluarga. Contoh konkret mengenai hal itu seperti kita lihat dalam kehidupan keseharian kita: di dunia politik terjadi desentralisasi di mana-mana, demokrasi yang sehat dan adil mulai berbicara semakin keras di seluruh penjuru bumi, diawali dengan bubarnya unisoviet serta jatuhnya benteng pemisah di Berlin (Jerman), kecuali Amerika serikat yang masi mencoba untuk menunjukkan politik otoritarismenya di kanca dunia, kendati menara kembarnya sebagai lambang dominasi kekuasaan politik dan ekonomi sudah dirubuhkan.
Juga dalam sistim kehidupan beragama, mulai dari Konsili Vatikan II, terjadi perubahan yang drastis dalam pemahaman tentang Gereja, kecuali gereja Roma yang berusaha untuk mempertahankan sistim sentralisasi yang monarkis dan feudalnya. Dalam relasi kehidupan keluargapun berubah, kecuali suami yang tradisional yang berusaha untuk mempertahan statusnya sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga. Angin pembaharuan itu kini terus berhembus sampai, akhirnya di dunia politik Timur-Tengah dimana para pemimpin tirani pada berjatuhan. Dunia maskulin yang sentralis, otoriter, diskriminatif dan tirani, mulai dari keluarga, gereja, sosietas sampai pada dunia politik, semuanya sedang mengalami krisis identitas yang dalam. Umat baptis yang sederhana pada khusunya den semua orang beriman pada umunya, isteri dan anak, masyarakat kecil, khususnya kaum wanita yang selama ini hidup dalam belenggu otoritas dari tangan para pemimpin tirani dan suami-kolonialis, kini disapa oleh Yesus sabagai yang berbahagia, karena kendati menderita tetapi tidak putus asah, sebaliknya selalu sabar dan teguh dalam iman serta rendah hati dan terus percaya lagi setia; mereka inilah, menurut Yseus, yang akan mendapat hiburan dari Allah. Angin segar penghiburan pembebasan dan penyelamatan itu, kini terus berhembus ke seluruh penjuru, menggerakkan semua nadi kehidupan umat manusia, terlebih mereka yang kecil, tertindak dan yang menderita, dengan pelan tetapi pasti.
Kebahagiaan bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran. Bila kita menengok pada sejarah hidup kita mulai dari kehidupan keluarga, gereja dan agama sampai pada kehidupan politik, patutlah kita merasa malu. Berapa juta orang di dunia yang sudah mati demi kebenaran (hak asasi, keadilan dan kebebasan bersuara, beragama dan lain-lainnya). Baik dunia agama maupun politik sama-sama mempraktekkan kejahatan yang amat keji dengan mencabut nyawa orang-orang demi kepentingan kekuasaan egosentrismenya. Praktek kejahatan itu bahkan masih juga terasa sampai kini, di tengah milenium ke tiga. Inilah hal yang perlu dirafleksikan secara lebih dalam dan jujur, perlu didiskusikan bersama antara semua pihak tanpa kecuali, perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari semua pihak dan golongan.
Kebahagiaan bagi mereka yang murah hati. Egosentrisme kini semakin kuat terasa di mana-mana, bukan sejenis egoisme institusionalisasi tetapi egoisme terlepas dari institusi, tertutup, terisolasi. Kendati dengan dunia komunikasi yang semakin canggih tetapi di pihak lainnya kehidupan bersama yang sehat terasa semakin sulit, semakin terisolir, orang-orang nampaknya lebih tabah berteman dan berbicara dengan anjing atau hewan kesukaan lainnya dari pada dengan sesama manusia. Dalam cultur sibernetis saat ini, orang-orang berhubungan secara digitalis, telerelasi, telekonversasi, telekonvivensial, telemedis, teleafektivitas, pendeknya semuanya dilakukan lewat jarak jauh dan semuanya sangat abstrak, sesuatu dirasa seolah-olah ada dan sekaligus tidak ada, karena orang secara konkritnya tidak nampak. Semuanya dibuat dalam bayangan, imaginasi, ada kelihatan bayangan di depan mata di layar monitor tetapi sekaligus secara kenyataan tidak ada karena dengan teknologi supermoderen semuanya dapat dimanipulasi dengan amat mudah. Adalah suatu sosietas tanpa muka, tanpa nama, tanpa aroma. Tradisi gotongroyong yang merupakan cirikhas hidup social masyarakat kita sama sekali hilang. Ada pepata dulu yang mengatakan demikian: “ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang”. Hal itulah yang kini sedang kita hidupi. Manusia dilihat, bukan seperti ia adanya, tetapi ditinjau dari segi harta milik: dicinta karena harta milik, dijadikan teman berdasarkan harta milik, dibantu bila ada kesulitan karena harta milik. Dalam kehidupan bertetangga, terdapat dua rumah yang sama sekali kontras, yang satu penuh dengan kemewahan dan yang lain berupa gubuk reot tetapi itu tidak ada orang yang merasa tersentuh hatinya untuk mengulurkan tangan dan membantu; sebaliknya dianggap itu bukan masalahnya, orang-orang tidak lagi menghiraukan situasi hidup social sesamanya, bahkan mental-mental seperti itu kini terjadi sampai di desa-desa terpencil sekalipun. Seluruh nadi kehidupan social cultural kita sedang digerogoti secara perlahan oleh vírus invidualisme.
Kemurahan hati yang dipraktekkan oleh Yesus bukan hanya sekedar memberi roti dan anggur demi memuaskan lapar dan dahaga fisik, tetapi terlebih tenaga, waktu dan perhatian, bahkan menyerahkan sampai hidupnya sendiri bagi orang lain karena rasa cinta dan demi cintanya yang tanpa batas (Yoh 15,13). Inilah teladan hidup murah hati yang tak terbatas yang diajarkan oleh Yesus kepada kita karena rasa cinta akan sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Adalah merupakan suatu ujud cinta yang murni dan radikal yang patut diteladani. Contoh inilah seharusnya menyentuh hati kita semua serta mendorong semangat semua kita untuk diikuti. Inilah tantangan hidup kekristenan kita yang monumental.
Kebahagiaan bagi mereka yang murni hatinya. Pemilik kerajaan surga adalah mereka yang di dalam batinnya ada rasa bebas, bijak lagi dewasa, yang tahu dan mampu menentukan sikap untuk melepaskan diri secara spontan dari keterikatan batin pada harta duniawi agar dapat memberikan kemungnan untuk merangkul harta surgawi (memeluk cinta kasih Allah yang tak terbatas terhadap sesama manusia). Barang siapa yang murni hatinya, ia juga sederhana rohnya. Barang siapa yang mampu menguasai diri dan keluar dari kecenderungan egoisentrismenya, ia akan mampu pula untuk mengatasi gadaan-gadaan kemewahan duniawi. Inilah ciri-ciri orang yang murni hati, dewasa dan bijaksana.
Tanda-tanda lain bagi orang yang murni hatinya adalah orang yang jujur, setia, sederhana hati, adil, toleran, penuh pengertian, dialogal, tidak egois dan suka membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Kemurnian hati, dalam pemahaman injil selalu berhubungan pertama-tama dengan segala seusatu yang tidak sesuai dengan kriteria cinta kasih Tuhan, yang setia, adil, jujur dan bijaksana. Dan yang kedua, berkaitan dengan relasi afektivitas dalam relasi kehidupan keluarga dan sosial. Kita perlu bertanya diri: apakah saya ini cukup memiliki hati yang murni dalam hidup social, profesional, keluarga dan dalam kehidupan iman?
Kebahagiaan bagi mereka yang bekerja demi perdamaian. Animalisasi manusia memang tidak terlalu mengerti apa itu dan bagaimana hidup saling berdampingan dengan damai dan harmoni, saling menghargai hak dan kebebasan, saling membantu secara adil dan jujur tanpa pamrih. Keanimalisan kita hanya bisa tahu berperang demi status atau karena ketidakmampuan hidup bersama, baik itu perang panas di medan pertempurang, perang mulut dengan saling menuduh dan memfitnah maupun perang dingin dengan saling berlombah senjata dan saling mengancam untuk menghancurkan hidup satu sama lain.
Yesus dari Nazaret, Kristus-saudara berbelaskasih memberikan damainya kepada para rasul dan semua pengikutnya – kepada kita semua – tidak seperti yang diberikan oleh dunia, yang artifisial. Pada kenyataannya bahwa tak ada tempat satupun di dunia ini dimana masyarakatnya tidak mempunyai agama atau jenis penghayatan keiman lainnya, tetapi anehnya bahwa tindakan saling membenci dan membunuh atas nama ideologi politik dan terlebih agama sepertinya tak kunjung akhir. Bhagawad Gita berkata: “ego merupakan musuh yang paling keji bagi ke-aku-an diri, tetapi ke-aku-an diri adalah sahabat terakrab bagi ego”. Manusia egosentris tidak pernah mengalami damai yang sebenarnya. Sementara itu semua orang kristen dipanggil oleh Kristus untuk hidup dan bersaksi tenteng cinta dan damai. Bagaimana dalam kehidupan keluarga kita, apakah selalu diusahakan agar cinta dan kedamaian memenuhi hidup dan relasi keluarga? Bagaimana hidup antar agama, apakah ada saling menjaga dan menghargai, ada sikap toleransi? Apakah kita orang beriman sudah cukup mampu untuk keluar dari semangat animalis kita yang selalu cenderung pada permusuhan?
Kebahagiaan bagi mereka yang dianiaya karena kebenaran demi kerajaan Allah. Orang sering bertanya tentang apa itu kebenran. Untuk menjelaskannya secara teori tentang Hal itu memang sulit, sampai yesus sendiripun menjadi diam ketika ditanya oleh Pilatus. Cinta damai memang bukanlah masalah ortodoksal atau teori tanya-jawab tetapi menyangkut ortopraxis (praktek nyata) kehidupan. Apa sebenarnya maksud injil mengenai kebenaran atau benar dalam hal ini? Mungkin dapat dikatakan saja bahwa kebenaran adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehendak kasih Allah. Kebenaran di bidang politik, misalnya, tentunya manyangkut hak asasi, keadilan, kejujuran, kedamaian, kebebasan, tanggungjawab politik publik demi kesejahteraan rakyat banyak, dll. Dalam bidang penghayatan iman dan spiritualitas keagamaan misalnya, tentunya berkaitan dengan perhatian terhadap kesamaan nilai dan arti dari Pencipta dan manusia ciptaan. Artinya bahwa penghayatan tradisional bahwa manusia itu adalah makluk yang tidak terlalu berguna bagi Allah karena penuh dengan dosa, tidak layak di hadapan Tuhan, tubuhnya adalah najis bagi jiwa, semuanya ini perlu dibaharui. Semuanya ini berlawanan sama sekali dengan pesan Injil. Kita memang perlu keluar dari faham dualisme untuk masuk ke konsep dualitas. Perlu keluar dari faham bahwa agama saya lebih benar dari yang lain untuk dapat masuk ke dalam konsep bahwa semua agama hanyalah instrumen untuk mengorientasikan hidup kita dengan nilai-nilai spiritualnya kepada Allah, Dan bila hal itu sungguh dihidupi secara manusiawi yang lebih sehat jujur, dewasa dan bertanggungjwab. Artinya bahwa tidak ada rasa saling membenci dan menghalangi dan atau mengganggu praktek-praktek kehidupan iman umat dari agama lainnya.
Semoga hidup kita semakin hari semakin dewasa dan bijaksana sesuai kehendak kasih Allah yang menyelamatkan.
__________&&&___________ Belo Horizonte, 06/11-2011
Fr. Lukas Betekeneng, cmm.

Nenhum comentário:

Postar um comentário