domingo, 21 de outubro de 2012

KETAATAN

Harapan dan tantangannya dalam hidup keimanan

(Sekedar untuk merenung)

Prinsip dasar dari dinamika ketaatan selalu dimulai dari sikap mendengarkan secara saksama dan diakhiri dengan perealisasian secara efektif dan efisien. Tindakan hidup ketaatan memiliki kurang lebih 4 implikasi pemahaman: a). Subordinasi atas kehendak orang lain (...); b). menerima tanpa komentar suatu instruksi; c). merealisasikan suatu perintah atau permintaan tanpa diskusi; d). mematuhi atau menuruti suatu larangan tanpa kecuali. Dari konteks penghayatannya ketaatan dapat disoroti dari beberapa model. Dengan amat ringkas kita coba melihat satu per satu dari model ketaatan untuk membantu memperdalam refleksi tentang tema utama yakni, ketaatan sebagai kaul religius.

Ketaatan militer. Adalah suatu model ketaatan vertikal yang total, tanpa syarat, tidak mengijinkan diskusi logika “mengapa dan untuk apa” mentaati suatu perintah. Ada suatu peribahasa kuno mengatakan demikian: “memerintah bagi yang berkuasa dan menuruti bagi yang punyai pertimbangan”. Ketaatan semacam ini di dalam konteks kehidupan militer tidak bisa dinilai sebagai suatu ketaan “buta”, dalam arti yang negatif, tetapi perlu dipahami sebagai suatu jenis “ketaatan konsekwensif” hierarkis (atau ketaatan fungsional, instrumental antara bawahan terhadap otoriatas dari atasan dalam struktur kekuasaan). Karena itulah makanya ketaatan militer juga dapat didefinisikan sebagai suatu “ketaatan struktur”.

Ketaatan infantil. Ketaatan jenis ini dapat didefinisikan sebagai suatu jenis ketaatan yang dijalankan dengan tujuan untuk mendapat penilaian positif di mata mereka yang memimpin (“supermarket ketaatan”: anda taat anda disayang, anda melawan anda melayang). Dari aspek psikosocial, model ketaatan semacam ini dapat disejajarkan dengan tipe ketaatan militer, Cuma bedanya di sini, ialah bahwa ketaatan militer lebih bersifat mutlak struktural (non-negosiasi), sementara ketaatan infantil lebih ke arah negosiai “komersial” mental di mana kedua pihak sama sama ingin mendapatkan “keuntungan”  (kepuasan psikologis bagi yang memerintah dan diperintah). ketaatan do ut des, ketaatan yang tidak dewasa, juga tidak bertanggungjawab. Tidak dipungkiri bahwa banyak kaum religius yang menjalankan ketaatan tipe ini.

Ketaatan solider. Yang dimaksudkan dengan ketaatan solider di sini ialah ketaatan yang dilakukan oleh seseorang secara spontan saat menggabung diri dengan sukarela dalam suatu kelompok, dan karena itu mengadopsi semua ide dan ketentuan dari kelompok, secara sadar, sebagai bahagian dari hidupnya, baik itu untuk suatu jangka waktu yang pendek atau panjang.

Ketaatan sosiologis. Sesuai dengan pandangan seorang hakim dan sosiolog Jerman, Maximilian Karl Emil Weber – atau biasa dikenal secara akrab dengan “Max Weber” (1864 – 1920), adalah merupakan karakteristik dari dominasi sosial. Dalam suatu sistim sosial yang terdiri dari klas klas, menurut pendapat Webwr, biasanya klas yang lebih kuat mendominasi klas klas yang secara social lemah. Ketaatan di sini dipahami lebih sebagai kepasrahan nasip hidup, dari klas yang lemah dan perbudakan atau eksplorasi, dari klas dominan.

Ketaatan sukarela. Di sini dipahami sebagai suatu norma dasar untuk menjamin kehidupan bersama dalam suatu kelompok atau sosietas. Contoh untuk itu, ialah kesepuluh “Perintah Allah” dimana dijadikan sebagai pedomen arah bagi organisasi kehidupan bersama bangsa Israel. Setiap indiviu dimintakan kesiapsediaannya untuk menjaga keutuhan dalam kehidupan bersama dengan memelihara dan mentaati norma norma dasar kebersamaan. Pada hakikatnya ketaatan jenis ini dijalankan karena didorong oleh arti dan nilai hakiki dari norma dasar yang menjamin keadilan, kedamaian, hak asasi, persatuan dan kesatuan dari kelompok itu sendiri. Tidak dipaksa untuk mentaatinya, tetapi sekali masuk dan mengambil bahagian dalam kelompok, kepatuhan atas norma demi terjaminnya kesejahteraan bersama, adalah merupakan tanggungjawab dari semua untuk semua. Bila ada individu yang dengan sengaja melanggarnya maka ia akan dikenakan sangsi sesuai dengan ketentuan norma yang berlaku. Dari pihak lain perlulah diingat bahwa segala macam norma apa pun, adalah karya dari manusia untuk manusia, dan bukan sebaliknya. Betapapun baiknya suatu norma, ia tetap sekedar norma dan tidak lebih dari itu.

Ketaatan iman religius. Dua figur biblis sebagai contoh dari jenis ketaatan ini: Abraham (sebagai model iman umat dalam Parjanjian Dasar) dan Maria dari Nazaret (sebagai model iman umat dalam Perjanjian Kepenuhan). Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no 143 dapat dibaca: “berdasarkan iman, manusia menyerahkan dirinya secara total dan tanpa syarat kepada kehendak Allah”. Untuk dapat menjalankan ketaatan ini diperlukan suatu sikap mendengarkan suara Allah (dengan membaca Kitab Suci mau pun lewat meditasi dan juga sharing tentang “inspirasi Roh Allah yang berbisik di nurani setiap insan). Untuk mendalami lebih lanjut topik ini, silahkan membaca rumusan KGK, mulai dari nomor 144 dan seterusnya.

Ketaatan antisipasi. Term ketaatan ini sebenarnya dipopulerkan oleh kelompok jesuit yang dikenal dengan singkatan AMDG -  Ad Maiorem Dei Gloriam. Ketaatan jesuit dilakukan dengan tujuan demi kemuliaan Allah yang besar. Di hall di Georgetown University di Amrika Serikat dapat dibaca kalimat lain sebagai kelengkapan dari yang pertama: “Ad maiorem Dei Gloriam Inque Hominum Salutem” (diartikan sebagai segalanya dilakukan “demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia”). Demi tujuan inilah makanya manusia didorong untuk melakukan ketaatan secara aintisipasi. Artinya bahwa, sebelum adanya penegasan dari atas untuk taat, pribadi sudah melakukannya terlebih dahulu. Kendati dengan semboyan ketaatan yang begitu bagus, paling tidak secara teori, namun dalam prakteknya tidak terlepas pula dari kelemahan manusia, baik itu dalam praktek hidup interen mau pun dan terlebih lagi dalam tugas perutusan. Baiklah diingat bahwa ide Tuhan – dan Kitab Suci – tidak jarang dimanipulasi oleh kelompok ini (juga oleh berbagai kongregasi religius lainnya) sepanjang sejarah misinya di dunia. Untuk mengetahui lebih jauh akan kepincangan ini, silahkan baca sejarah tentang misi jesuit maupun misi dari kongegasi lainnya di dunia. Bukan sedikita manusia diperkosa, diperbudak, disakiti dan dibunuh secara kejam demi nama ketaatan dengan dilatarbelakangi bendera Allah dan atau Kitab Suci.


Ketaatan hierarkis. Adalah, sesuai dengan definisinya, suatu ketaatan yang bersifat diskriminatif dan eksklusif. Merupakan suatu sikap penyerahan tak bersyarat dari bawahan kepada atasan. Norma ketaatan di sini dibuat lebih untuk menjamin keberhasilan tugas fungsional dan wibawa dari otoritas dari pada melindungi nilai diri bawahan. Logika ketaatan dalam lingkup hierarkis adalah hak – dari atasan – dan kewajiban – dari bawahan. Mendapat premium – moral, promosi profesional mau pun imbalan material – bagi yang menjalan kewajiban ketaatannya secara total dan ganjaran hukuman bagi yang kurang atau tidak patuh terhadap norma atasan. Dalam iklim seperti inilah tumbuh apa yang dikenal dengan “tindakan penyalahgunaan kekuasaan”, otoritarisme, tirani, kolonialisme, perbudakan, feodalisme dan lain lain macam kejahatan kekuasaan yang sering dilakukan oleh seseorang yang berada di tampuk kepemimpinan, baik itu di dalam kehidupan keluarga, dalam organisasi sosial kemasyarakatan, dalam instansi politik mau pun dalam lingkup kehidupan religius pada umumnya (dan dalam gereja kristen khususnya dan gereja roma secara khusus serta dalam komunitas komunitas religius secara spesifik).  


Ketaatan sebagai kaul religius.

Santu Yohanes mendefinisikan pengalamannya tentang Allah dengan suatu kalimat yang pendek tetapi padat lagi dalam maknanya, demikian: “Allah adalah cinta” yang hidup dan membebaskan, dan cintanya yang membebaskan itu mencakup seluruh ciptaan (lih. 1Yoh 4,16; lih. juga, Mz 144,8). Dengan kata lain, manusia adalah Roh Kasih (cinta) kebebasan dari Allah Pencipta dalam bentuk tubuh insan yang sedang beroperasi di dunia ciptaan (lih Kej 1,26.27; 2,7). Dari sudut pandang antropologis, manusia itu adalah suatu makluk bebas. Begitu pula dari sudut pandang kejiwaan (psikologi), tidak ada manusia – normal – di dunia ini yang mau tunduk atau pun ditundukkan tanpa syarat di bawa kuasa orang lain. Dalam hidupnya di dunia ia, sesuai dengan sifat alamnya, senantiasa berusaha untuk membebaskan diri dan orang lain dari segala keterikatan demi memelihara nilai unsur pribadinya sebagai insan bebas, yang dibekali Allah dengan daya pikir (otak), daya rasa (hati) dan daya kehendak atau kemauan (ginjal). Berangkat dari tiga dasar utama (teologis-biblis, antropologis dan psikologis) inilah kita coba merefleksikan sedikit lagi tentang ketaatan sebagai kaul dalam hidup membiara dan “mengagama” di dalam gereja kristen roma.

Ketaatan, yang merupakan bahagian integral dari tiga kaul religius, adalah merupakan titik temu dari kaul “kemurnian” dan kaul kemiskinan. Pemahaman ketaatan, dalam konteks ini, merupakan suatu sikap penyerahan diri atas kehendak yang Maha Kuasa sebagai wujud nyata oblasi. Artinya bahwa, sikap ketaatan dijalankan sebagai pengurbanan diri dan kepentingan pribadi (dalam arti positif) demi kebaikan sesama (sikap hidup iman martirial). Dalam sepanjang perjalanan sejarah gereja, ketaatan dipahami sebagai suatu aksi radikal dari penyangkalan (negasi) diri, suatu sikap menerima dan menjalankan norma dan atau perintah atasan tanpa komentar. Atasan, dalam konteks ini, diinterprestasikan sebagai figur representatif dari Allah yang berkuasa di dunia (dalam hal ini, di institusi institusi, baik sipil mau pun religius). Beberapa pertanyaan provokatif untuk sharing. Bagaimana ketaatan itu dihayati dalam hidup menggereja, membiara dan juga mendunia di dalam milenium ketiga ini? Apa pemahaman iman keagamaan dalam dalam kaitannya denga ketaatan di dunia pós-moderen? Apa tipe ketaatan yang sedang dihayati dalam gereja, kongregasi dan atau dalam komunitas kebiaraanmu?

Paradoks existensial. Sudah dikatakan di atas bahwa, baik dari sudut pandang teologis-biblis, antropologis maupun psikologis, manusia itu adalah makluk yang bebas, yang memiliki kemampuan untuk berpikir, untuk merasa dan untuk berkehendak. Semua jenis reaksi pemberontakkan adalah suatu signal nyata yang menunjukan bahwa manusia itu secara alami adalah insan anti-konformisme. Ketaatan secara tak bersyarat (seperti ketaatan hierarkis) dipahami sebagai ancaman bagi nilai integral dari dirinya sebagai makluk pemikir, perasa dan pendorong. Ini merupaka salah satu tangtangan dari ketaatan masa kini.

Manusia pada dasarnya tidak pernah bebas secara total, sebaliknya ia adalah insan dual, itu artinya bahwa adalah makluk, yang sakaligus, bebas dan terikat. Rasul Paulus mensharingkan pengalamannya sendiri akan kenyataan itu ketika berkata: “Aku tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi dengan aku, sebab aku tidak melakukan apa yang kukehendaki, tetapi sebaliknya melakukan yang justru kubenci” (Rom 7,15). Diinspirasikan oleh kutipan ini Konsili Vatikan II berkata: “Umat manusia tidak pernah memahami arti tentang kebebasan yang begitu tajam seperti zaman ini, tetapi sekaligus hal itu pula menjadi model baru perbudakan sosial mau pun psikologis (GS, 4). Kontradiksi yang ada dalam dunia politik, dalam hidup keagamaan pada umumnya, dalam gereja kristen dan khususnya gereja Roma serta dalam kehidupan keluarga, mebuat orang orang zaman ini tidak lagi menghargai nilai dari ketaatan itu sendiri. Gereja hierarki dan kaum religius seluruhnya perlu lebih menjadi exemplifikator keselarasan hidup antara iman kepercayaan (doa) dan pengaplikasiannya dari pada menjadi explikator tentang spekulasi antara doa dan kerja.

Definisi ketaatan. Ini berkaitan langsung dengan hierarki. Teori dan atau definisi definisi tentang ketaatan yang kontradiktif dengan prakteknya, bagi manusia pós-moderen (atau hipermoderen), itu adalah hampa, tidak ada gunanya, betapa pun indah dan kayanya teori itu, semuanya tidak berguna sama sekali. Bila ketaatan dijalankan hanya demi ketaatan, hal ini akan melecehkan nilai luhur dari pribadi insan pós-moderen, dan tentunya ketaatan akan ditolak. Baiklah disadari, sekali untuk selamanya, bahwa semua apa yang dikatakan dengan mengutip Kitab Suci, belum tentu Kitab Suci mengatakan hal yang sama, dan pula tidak ada jaminan apa pun bahwa semua yang dibuat atas nama Allah, sudah dapat pasti dipercaya bahwa Allah akan mengkonfirmasikan perbuatan itu. Suatu ketaatan dijalankan tanpa didasari atas kasih yang dewasa, keadilan dan kejujuran adalah perbudakan, tetapi bila dilakukan dalam semangat dan karena cinta, adalah kesetiaan.

Ketaatan sebagai model hidup kerasulan dari Yesus yang taat. Ketaatan yang didasari atas prinsip ini adalah, seyogianya, merupakan ketaatan yang dewasa dan bertanggungjawab serta bersifat humanis dan tentunya menyelamatkan. Menghayati ketaatan tidak sama artinya dengan ketergantungan total dari individu pada otoritas. Ketaatan religius kristen adalah suatu jenis ketaatan yang sehat dan seimbang baik itu secara vertikal mau pun horizontal. Lain dari itu adalah tirani, manipulasi, kebohongan, korupsi, perbudakan, eksplorasi, infantilisme, hierarkisme, otoritarisme, feodalisme. Satu hal positif yang tidak boleh disangkal dari pós-moderen ialah kenabiannya: pós-moderen mendenunsiasikan manipulasi serta penyimpangan ketaatan dan menganunsiasikan sikap metanoia untuk menghargai dan menyelamatkan nilai kebebasan pribadi setiap insan ciptaan Allah, kemandirian yang dewasa, penghargaan akan keadilan dan hak asasi dari setiap pribadi sebagai manusia yang layak dan bebas.

Ketaatan sebagai model hidup kerasulan seyogianya dijalankan dengan suatu semangat baru: ketaatan yang sehat, yang memanusiakan manusia, yang membangun, yang memiliki nilai mistik dan spiritual yang kristis (ketaatan sebagai kreatifitas dalam kesetiaan kerasulan Kristus – dan bukan kesetiaan yang kreatif). Hidup religius tidak pantas terkurung dalam penghayatan ketaatan yang dangkal dan memperbudak manusia, tidak sesuai dengan Roh Allah yang membebaskan, ia perlu menjadi nabi dalam hidup iman gerejani. Ia tidak boleh mengurung diri dalam pemahaman ketaatan tradisional. Ia perlu sadar bahwa pós-moderen telah memodifikasi pemahaman akan ketaatan, telah merekonfigurasi teori akan ketaatan dengan nilai memanusiakan pribadi pribadi manusia konkret sebagai elemen dasar dari dan untuk kebersamaan. Kesucian hidup manusia tidak diperoleh lewat ketaatan tanpa syarat ala perbudakan, tanpa menghiraukan juga tidak memperhitungkan nilai manusia gambar dan rupa Allah. Norma ketaatan religius kristen belum tentu merupakan model ketaatan kristis dari Yesus orang Nazaret. Hal ini perlu dicermati secara kristis, dewasa dan seimbang agar nilai nilai luhur kemanusiaan tidak dilecehkan oleh tindakan ketaan dengan bendera iman keagamaan apa pun.
(L. Betekeneng)

Nenhum comentário:

Postar um comentário