(Sebuah permenungan cinta)
Di suatu kegelapan malam, di tengah gemurunya badai selatan yang keras menghembus menampar alam, dengan langkahku yang mengayun ragu, ku coba melewati derasnya air langit yang jatuh mengguyuri tanah, memoles bumi, mengecup kuncup, membelai semesta, membilas iman , merangsang harap, menggoda niat, merayu kasih...
Dengan amat serentak, di balik kekelaman gulitanya malam, terdengar sayup suara mengalun, di telingaku menggema namaku dipanggil: oh, kekasihku! Begitulah sayang menyapaku lembut diiringi bias senyumnya yang dari bibir terpoles manis. Untuk menghalau jauh curigaku yang masih mencekam beraniku kecut, ia pun terus bernada sendu untuk yakinku yang lemah diteguh:Janganlah kau gelisahkan jiwamu! Percayalah! Banguhkanlah niat, teguhkanlah iman, kuatkanlah harap, kokohkanlah cinta, aku datang hanya untukmu...
Telah lama kau kucari, bertahun sudah kau kunanti: segala penjuru aku berlari..., di semua semesta kucoba simak..., di segala padang kuingin menebak..., pada rerumputan pun sudah kutanya..., namun jawab satu pun tak ada datang. Laut sepertinya membisu, langit pun pada diam, gunung hanya menggeleng kepala, bukit sekedar mengangkat bahu, datar sejenak membuka tangan, ombak terus mencibir bibir, rembulan sampai mengerut kening hingga surya pun ternganga bingung...
Hatiku tiba tiba berhenti berdetak mengiringi langkahku yang kini terhentak saat mendengar lantunan kesaksian cinta yang mengalir dari relung sukma kesayangan jiwaku yang merindu. Dari batin yang masih gemetar kocoba melambung nadaku getar untuk menjawab lantun cintanya: oh sayangku! Hanya engkaulah batinku rindu! Sungguh, di dada jiwaku melonjak riang ketika mendengar alun manis suara memanggil. Telah lama kau kurindu, hanya padamulah hatiku bermimpi, jiwaku mengangan, imanku bertanya, sukmaku menangis, percayaku pilu, yakinku gelisah, harapku kesah...
Namun kini kau kutemu, rasaku pun tenguh karena sayangku kembali di dalam rangkul cintaku utuh. Hanya padamu kini aku berserah, ke mana pun pergi aku berada. Seumpama fajar dan rembulan, di setiap lintas kita berpapas, bagaikan siang dan malam, di suatu penghujung kita berjumpa, laksana bulan dan bintang, di langit yang satu kita bersama, seperti laut dan darat, di segala pesisir kita bertemu, ibarat langit dan bumi, di semua ufuk kita menyatu. Begitulah nasip cinta kita, mulai kini dan selamanya akan tetap menjadi sejoli dalam kasih yang utuh dan tak terpisahkan...
(L. Betekeneng)
Nenhum comentário:
Postar um comentário