terça-feira, 16 de outubro de 2012

MENYIMAK KEMBALI INSPIRASI HISTORIS PENDIRIAN KONGREGASI DARI MGR. JOANNES ZWIJSEN

Hari ini (16 Oktober 2012) para suster SCMM dan frater CMM memperingati hari wafatnya pendiri Kongregasi, Mgr. Joannes Zwijsen, 16 Oktober 1877 (135 tahun silam). Mengenang hari wafatnya sang pendiri bukan hanya sekedar mengucapkan terima kasih atas warisan dari karya pendirian dalam bentuk doa doa devotif (doa rosário) dan atau selebrasi Ekaristi belaka yang kemudian ditutupi dengan makan dan minum. Semua itu baik, tetapi tidak cukup. Kita perlu sadar diri bahwa menjadi saudara dan saudari dalam keluarga Belaskasih Zwijsen berarti menjadi ko-pendiri kongregasinya, hari demi hari. Artinya bahwa karya yang diterima dari tangan pendiri itu perlu direnovasi, adaptasi dan aktualisasi, perlu diletakan kembali fundasi di atas cadas iman injili sesuai dengan konteks kehidupan di mana kita berada dan berkarya.
Mgr. Joannes Zwijsen memang tidak termasuk – dan tidak perlu masuk – pada daftar para pendiri yang besar dan karena itu terkenal dalam sejarah pendirian kongregasi di dalam Gereja Katolik Roma. Hal ini adalah amat sangat relatif. Joannes Zwijsen adalah figur yang sederhana pada zamannya, adalah sorang pendiri kecil – dari kongregasi Suster dan Frater – yang memiliki inspirasi yang besar, visi yang luas dan misi pewartaan Berita Baru Allah yang tak terukur nilai – dan karena tahan zaman – lewat usaha karya belaskasih demi membangun dunia baru yang semakin manusiawi, semakin persaudaraan dan semakin kekeluargaan dimana meraja kedamaian, hak asasi, keadilan dan kebahagiaan roh dalam hidup setiap insan manusia. Untuk tujuan mulia ini, bagi Mgr. Joannes Zwijsen, pendidikan adalah satu satunya jalan. Pendiri sungguh sadar dan percaya bahwa hanya lewat pendirikanlah manusia itu dapat dibentuk daya pikir, daya rasa dan daya kehendaknya sebagai citra ciptaan yang diciptakan sesuai gambar dan rupa dari Sang Pencipta. Dalam dan lewat pendidikanlah harapan kelahiran “manusia baru untuk dunia baru” (lih. Mrk 2,18-22) dapat dibangun semangat hidup kekeluargaan yang solider dan yang bertanggungjawab, yang hidup dan aksinya senantiasa dijiwai serta dituntun oleh terang Roh belaskasih Allah. Jelaslah sudah bahwa Mgr. Joannes Zwijsen bukanlah seorang yang sibuk untuk membentuk otot perut orang miskin dengan memikul berkarung karung makanan dan pakain dan ditumpukkan di depan mereka dengan berkata: “makanlah dan pakailah sampai puas, dan bila sudah habis maka datanglah kepadaku hai kalian semua – atau pun aku dapat mencarimu di mana kamu berada – karena di rumah aku dapat memberikan  anda makan, minum dan pakai tanpa bayar”.
Situasi kemiskinan yang menimpah hidup sesama manusia, baik dalam arti “kogonal” (kekurangan kebutuhan hidup dasar sehari sehari seperti: sandang, pangan dan perumahan mau pun jaminan kesehatan), atau dalam arti ketidakmampuan berproduksi secara ekonomi untuk dapat mempertahankan hidup pribadi dan keluarga, mau pun juga kemiskinan dalam faktor penyingkiran (diskriminasi) sosial yang membuat orang tidak dapat berpartisipasi secara aktif dalam gerak langkah kehidupan dalam bermasyarakat dan berbangsa, semua itu adalah merupakan keterpurukkan mentalitas manusia (kerawanan pembinaan) untuk menjadi manusia-Allah dalam dunia. Masalah keterlantaran dan kemiskinan yang melanda Eropa pada saat itu akibat dari peperangan, dari kaca mata pendiri, ini adalah merupakan buah dari mentalitas mentalitas manusia yang arogan, yang egois, yang kurang terdidik, karenanya dikuasai oleh semangat animalis yang liar lagi buas. Mengharap suatu dunia baru di hari esok perlu disiapkan mulai hari ini, kini dan di sini manusia manusia baru. Pribadi pribadi manusia – pria dan wanita – perlu dikandung dan dilahirkan kembali dalam Roh kasih Allah (lih. Joh 3,3) untuk bisa mampu mengemban tugas merevelasikan wajah Allah yang damai dan berbelaskasih di dunia kehidupan. Karena itulah Mgr. Joannes Zwijsen sangat sibuk untuk merawat, melindungi dan mempersipakan generasi generasi masa depan dengan berusaha membimbang dan mendidik daya pikir, daya rasa dan daya kehendak yang lebih berperihkemanusiaan dan persaudaraan. Dalam kediamannya yang selalu aktif dapat dibaca inspirasinya yang dalam dan mulai: pendidikan adalah sekolah cinta, adalah pusat pembentukan kewajaran mentalitas hidup manusia baru bagi dunia baru yang lebih baik. Bagi kita Kon-suster dan konfrater perlu sadar diri bahwa bentuk identitas kongregasi kita adalah merupakan jawaban nyata dari Joannes Zwijsen atas seruan Injil Yesus: “tidak ada seorang pun di antara kamu memperbolehkan dirinya untuk dipanggil guru, bapa atau pun pemimpin di dunia ini karena hanya ada satu Guru, satu Bapa dan satu Pemimpin, ialah yang ada di Surga, dan kamu semua adalah saudara dan saudari” (lih. Mat 3,8-10). Karya karismatis pendidikan dalam semangat Maria adalah Belaskasih Allah yang tengah beroperasi di dunia. Saya yakin, tindakan pendiri dalam mendirikan kongregasi kita sebagai suatu kongregasi non-klerus adalah merupakan perwujudan iman kerasulannya sebagai pengikut Yesus dari Nazaret, yang juga disebut sebagi Kristus-Saudara berbelaskasih. Menjadi saudara dan saudari dalam iman kerasulan Yesus sebagaimana diserukan artinya bahwa kita menerima Allah Tritunggal sebagai usul asal kehidupan existensial dan kita semua adalah saudara dan saudari yang dikandungkan kembali dalam rahim kasih Tuhan dan dilahirkan kembalih dalam Roh cintanya. Menjadi saudara dan saudari (suster dan frater) dalam konteks kita bukan hanya karena percaya dengan perkataan, tetapi sungguh yakin dari hati bahwa kita semua, oleh itu, adalah saudara dan saudari kandung karena dikandungi kembali dalam satu rahim kasih Tuhan. Kita semua adalah saudara dan saudari secara faktual dalam satu tubuh dan satu darah karena Tubuh dan Darah dari Yesus Kristus, Saudara sulung dari kita semua umat manusia. Missi hidup kita sebagai saudara dan saudari (suster dan frater) kiranya mampu menjadi signal nyata dari antisipasi kehidupan komunial, relasional, unitas dan komunikasional yang abadi dan kekal dalam Keluarga surgawi dimana Tuhan Allah kita akan menjadi segalanya dalam semua (1Kor 15,28). Dalam kacamata iman, kita tahu dan sadar bahwa ada saudara dan saudari kita lahir dan hidup di Asia, Oseania, Afrika, Amerika dan Eropa. Perbedaan ini tidak menjadi alasan perpecahan, sebaliknya menjadi motif kerinduan untuk membangun persatuan dan kesatuan hidup dalam kasih cinta yang semakin kuat. Itulah, menurut saya, merupakan misi hidup yang mulia dan sekaligus suatu tantangan monumental dari perutusan kita, dalam kehidupan menggereja dan mendunia kini dan di sini. Dalam rangka memperingati hari wafatnya pendiri ini, bagi saya, kita perlu bertanya dan bertanya lagi akan keaslian identitas hidup dan karya kita sebagai suster dan frater dalam semangat Maria, yang adalah ibu dan pedagog dalam Keluarga kudus Yoseph dan Yesus dari Nazaret.     
                                    __________&&&__________
L. Betekeneng
Pertanyaan untuk refleksi: Siapa itu Maria dalam kaca mata Zwijsen? Mengapa Joannes Zwijsen mengangkat Maria sebagai pelindung Kongregasi kita? Siapakah Yesus bagi Mgr. Joannes Zwijsen? Apakah karya pendidikan kita sungguh dijiwai semangat belaskasih yang membebaskan sesuai inspirasi Joannes Zwijsen? Bagaimana menjadi suster dan frater di dalam milenium ketiga ini?

Nenhum comentário:

Postar um comentário