sábado, 31 de dezembro de 2011

MARIA: WANITA TELADAN YANG BERIMAN TEGUH

Renungan Injil untuk hari minggu, 31/12-2011
(Luk 2,16-21)
B

angsa Israel memang sedang hidup dalam suatu iklim batin yang penuh harap-harap cemas! Cemas karena banyak pria telah terbunuh dalam pemberontakkan melawan Roma atau tertangkap dan terpenjarah di perasingan. Kendati pun masyarakat tetap menaruh harappan akan munculnya seorang pria dengan semangat juangnya yang gagah-berani seperti raja Daud untuk dapat membebaskan bangsa Israel dari cengkraman Roma. Mereka tidak merasa jenuh untuk berharap, sebaliknya tetap menaruh percaya bahwa cepat atau lambat akan muncul seseorang yang mampu membebaskan rakyat Israel dari jajahan. Percaya bahwa Allah akan memunculkan dari tengah mereka seorang pembebas yang pantas menjadi teladan hidup dan panduan iman. Pemimpin harapan itu akan lahir dari keluarga yang cukup sederhana, yang tahu apa artinya penderitaan, yang cara hidup serta perbuatannya pantas menjadi contoh. Ia seyogianya dari keluarga yang sederhana dan yang mampu memberikan asuhan yang sesuai lewat perkataan dan tindakkan baik di hadapan Allah maupun sesama. Harapan dan kepercayaan itu mereka selalu memanifestasikannya pada saat lahirnya setiap bayi. Harapan itu, menurut kelompok kristen, terpenuhi dengan lahirnya Yesus dari Nazaret dari seorang gadis desa yang sederhana namun teguh imannya, dialah Maria.
Penginjil mengatakan bahwa Maria memberi nama Yesus ssuai dengan apa yang dikatakan malaikat Allah. Member nama, dalam tradisi Yahudi berarti bertanggungjawab sepenuh atas keselamatan hidup dan masa depan dari orang (atau hewan mau pun tumbuhan) itu. Maria diberi kepercayaan oleh Allah – dan bukan kepada Yusuf – untuk bertanggungjawab sepenuhnya akan hal itu. Dalam tradisi Yahudi, tugas memberi nama baik kepada hewan atau tumbuhan maupun kepada manusia, hanya dapat dilakukan olah kaum pria, tetpi dalam tradisi Gereja Lukas, pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Tuhan dan manusia. Hal lain yang menarik perhatian kita ialah bahwa Maria diurutkan pada tempat pertama diikuti oleh Yusuf kemudian bayi. Yang lazimnya sesua tradisi Yahudi, Yusuflah harus diurutan pertama. Santo Lukas, sebagai manusia beriman membuat perubahan social dalam kehidupan iman komunitas-Gerejanya. Tindakkan keadilan seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sungguh dewasa dalam kehidupan keimanan yang sehat, dewasa lagi jujur. Bagaimana sikap hidup kita dalam keluarga Dan masyarakat, apakah kita bertindak adil, jujur dan bijaksana terhadap kaum wanita? Apakah kita memperlakukan mereka sebagai makluk sesama dan sederajat?
Hal lain yang ditampilkan oleh Lukas tentang Maria ialah bahwa ketika mendengar ceritera para gembala mengenai apa yang dikhabarkan oleh malaikat kepada mereka, Maria justru menyimpan semuanya dd dalam hatinya dan merenungkan. Di sini, Maria ditampilkan sebagai seorang wanita pendoa, ia tidak membiarkan lewat begitu saja segala peristiwa kehidupan sehari-hari tanpa sebelumnya direnungkan dalam hati untuk mencari makna Allah. Mencari apa yang dikehendaki oleh Allah melalui peristiwa itu untuk kemudian bisa mengambil posisi sesuai dengan pesan yang disimak selama renungan yang dan atau doa. Begitulah cara hidup seorang manusia beriman, sesuai dengan wawasan penginjil santo Lukas. Banyak kali kita temukan orang-orang yang hanya mempunya agama dan kepercayaan tetapi tidak atau kurang memiliki iman yang dalam, teguh lagi setia, yang dapat divisualisasi dan diverifikasi kualitanya lewat tindakkan dan perbuatan sehari-hari. Apakah anda seorang manusia beriman atau yang beragama (sistem) dan percaya (sesuatu yang masih dalam keragu-raguan, tidak pasti, masih dalam kebingungan)?
Perlu pula diingat bahwa dalam tradisi kehidupan mistik dan spiritual bangsa Yahudi, orang-orang yang melakukan hal-hal kemanusiaan yang luar biasa terhadap semua orang, terlebih bagi kaum kecil, tertindas dan yang membutuhkan pertolongan, mereka itu dijuluki sebagai yang berjiwa anggelikal (kemalaikatan). Kata malaikat di sini bisa dapat diartikan dalam paham seperti itu. Artinya bahwa segalah perbuatan kemanusiaan yang kita lakukan bagi sesama adalah cara kita merevelasikan wajah Allah kepada orang lain. Dalam bahasa teologis kristen yang lebih dikenal ialah alter Khristus (Kristus yang lain). Bagai perbuatan kita sehari-hari, apakah merevelasikan wajah Allah yang penuh kasih setia, pengampun, bijaksana, yang adil dan jujur, tanggungjawab kepada sesama? Atau menampak wajah Allah yang kejam, pendendam, penghukum, dll.? Inilah tantangan kita sebagai orang beriman kristen secara khusus dan sebagai anak-anak Allah pada umumnya.
Kiranya pada tahun yang baru (2012) ini kita semakin tumbuh dan berkembang bersama dengan keteladanan dari hidup keimanan Maria dalam perjalanan sebagai murid-murid Kristus menuju Bapa di Surga. Seomag berkat Tuhan turun atas anda semua, dan semoga segalah cita-cita dan harapan hidup untuk tahun yang baru ini senantiasa dicapai dalam naunganNya. Dan semoga lewat bacaan dan renungan ini kita semakin diperkuat dan dipersatukan dalam semangat persaudaraan kristis.
_______&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 31/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM

sábado, 24 de dezembro de 2011

NATAL: KELAHIRAN ALLAH DALAM RUPA MANUSIA AGAR MANUSIA DAPAT DILAHIRKAN KEMBALI DALAM ROH KETUHANAN

Refleksi Injil untuk hari Natal, 25/12-2011
(Luk 2,1-14)
B

ila diperhatikan secara saksama maka nampak jelas bagi kita bahwa penulis dari injil Lukas menunjukan, kepada para pembacanya, dimensi evolutif dari dinamika pikiranya yang selalu baru lagi gradual serta selalu bersifat provokatif lagi mengundang untuk berpikir dan berefleksi tentang misteri cinta Allah. Hal itu jelas terlihat, misalnya, pada bacaan pada minggu yang lalu (Luk 1,26-38) dimana ia menunjukkan suatu perubahan yang signifikan dari aksi malaikat Allah, mulai dari perubahan tempat geografis (Judea – pusat – ke Galilea – pinggiran – dan dari dalam ruang bait Allah – publik – ke dalam kamar pribadi dari rumah keluarga – privat) sampai pada perubahan figur principal (dari figur maskulin dan saserdotal, Zakarias ke figur feminim, seorang wanita rumah, pribadi dari seorang perempuan desa yang tak terkenal, Maria dari Nazaret).
Kali ini penulis, sekali lagi, menunjukkan kepada kita dinamika perubahan baru dari pikiran penginjilannya. Sekarang arah perubahan kembali, dari periferis ke sentral (dari keisolasian atau privasi di daerah pegunungan dan padang gurun di Galilea dan Judea ke arena publik politik dan social dari wilayah kekaisaran Roma; kejadian-kejadian yang bersifat ajaib di daerah terisolasi kini menjadi berita umum dan diketahui oleh semua masa umat). Semuanya itu, penulis mau menunjukkan kepada kita betapa Tuhan itu bebas bergerak; begitu bebasnya ia sehingga susah untuk dilacak oleh intelektu dari manusia yang serba terbatas. Juga mau menunjukkan bahwa kehidupan kita saat ini bergerak antara harapan akan masa depan (berita tentang kelahiran hidup baru – Yesus Kristus) dan pengalaman sejarah masa lalu (fakta dari kegiatan sosialpolitik yang dijadikan sebagai simbol pemikiran – sensus penduduk). Inilah dinamika metodik dari pengalaman Tuhan, menurut penginjil Lukas: periferis-sentral-periferis, privat-publik-privat dan inklusif-eklusif-inklusif.  Itulah ide lukanis dari keadilan Allah: Tuhan itu adil dalam segalah tindakannya dan tak pernah diskriminatif, tidak berat sebelah, selalu seimbang, bijaksana. Ia baik bagi mereka yang baik mau pun bagi yang masih kurang baik.
Tetapi, apa sebenarnya pesan yang paling dalam dari Natal itu sendiri bagi hidup umat manusia? Banyak orang, dalam masa natal mulai bertukar menukar hadiah, tetapi tidak “tukar” atau baharui mentalitas, sikap batin dan tindakan. Ada yang menghiasi rumahnya dengan warna warni, ada lain yang sibuk mengirim berpuluh-puluh kartu natal untuk keluarg, teman-teman akrabnya. Apakah itu magna utama natal?
Memang semua itu penting, merupakan bahagian dari pesta, tetapi bukan yang paling utama dalam hidup. Makna natal buat kehidupan manusia melampaui segala sesuatu: kelahiran Allah dalam realita hidup manusia adalah suatu sinyal agar umat manusia dapat dilahirkan kembali dalam Roh dan kebenaran Tuhan. Allah lahir dalam rupa manusia untuk belajar hidup sebagai mausia untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup kealahan Tuhan.
Natal membawah perubahan batin, mentalitas, merubah cara berpikir, cara bertindak, cara berelasi dengan diri, semana, alam dan dengan Tuhan pencipta itu sendiri.
Semoga Rahmat Natal 2011 melimpah dalam hidup anda sekalian sepanjang 2012. Semoga banyak rejeki, banyak sukses, sehat senantiasa dan damai sejahtera.
_________&&&_________ BH., 25/12-2011.
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

segunda-feira, 19 de dezembro de 2011

IMAN DARI SEORANG WANITA DESA YANG MEMPESONA HATI ALLAH

Refleksi Injil untuk minggu ke IV masa Adven, 18/12-2011
N
(Luk 1,26-38)
ama penulis dari Injil ke tiga, Santu Lukas, seperti yang kita kenal sampai saat ini, bukan berasal dari sang penulis itu sendiri tetapi dari suatu tradisi gereja “kuno”, seperti terdapat pada daftar kanonik Muratori[1]. Itu terjadi karena pada jaman dahulu para penulis tidak mau menandatangani tulisan mereka tetapi selalu memasang nama dari orang-orang yang dianggap cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, nama mereka itulah dipasang seolah-olah karya dari orang-orang tersebut, sementara sang penulis yang sebenarnya menyamar di balik nama dari orang-orang itu.
Bila dipertemukan sejarah kelahiran Yohanes pemandi dengan harapan penyelamatan bangsa Yahudi, maka akan terlihat hal baru dari aksi keselamatan Allah justru terfokuskan pada berita tentang kelahiran Yesus dari Nazaret. Itu artinya, bahwa Yesus dari Nazaret merupakan pemenuhan dari nubuat para nabi tentang perjanjian penyelamatan bangsa Yahudi sebagaimana yang diharapkan: dari keturunan raja Daud. Hal lain yang terlihat baru dalam aksi Allah di sini adalah peran utama Maria dari Nazaret. Dia menjadi figur yang membuka tabir baru kehidupan iman umat, yang menguakkan harapan baru kehidupan, yang menumbuhkan keprecayaan diri bangsa akan kemampuan pribadi dalam kerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan hidup umat menusia. Cahaya iman seorang perempuan desa menjadi titik referensial bagi dunia relasi dan komonikasih antara manusia satu dengan yang lain dan antara manusia dengan Allahnya. Hal inilah yeng membuat baru dalam pewartaan Khabar Gembira: kekutan iman dari seorang wanita desa mampu mempesona hati Allah, berbeda dengan berita tentang kelahiran dari Yohanes pemandi[2].
Begitulah, sesuai Warta Baru dari Yesus lukanis, Tuhan menjadikan semuanya baru di seluruh muka bumi, mulai dari perubahan tempat geografis (dari Judea ke Galilea, wilayah yang didiskriminasikan oleh Judea) dari pemberitahuan tentang kelahiran dari sang Penyelamat sampai pada perubahan figur utama dalam awal karya keselamatan Allah (dari Zakarias kepada Maria), serta pemahaman akan peran dari Roh Allah itu sendiri dalam proses kelahiran Yesus yang diharapkan sebagai sang Mesias terjanji (Yohanes pemandi dipenuhi oleh Roh Kudus semenjak dalam rahim dari Elisabet, ibunya; Semetara itu Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria di bawah kekuatan Roh Kudus).
Hal yang paling penting dari semua itu adalah maksud dari penginjil yang terselip di balik dari semua elemen itu: iman dari seorang perempuan desa yang mampu mempesona hati Tuhan; hal itu tak mungkin bagi manusia – yang memiliki mentalitas diskriminatis, arogan dan kolonialis - tetapi “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (ay. 37). Ini jelas pada saat memunculkan Maria sebagai figur utama yang membuka tabir kehidupan baru. Perempuan beriman berdiskusi dengan Malaikat Allah untuk mau memahami pikiran Tuhan yang berkaitan dengan misteri kehidupan yang sepanjang sejarah dimanipulasikan oleh kaum pria. Peristiwa itu disimbolisasikan dengan tindakan Malaikat yang membisukan mulut dari Zakarias di bait Allah. Adegan baru kehidupan yang kristis disimbolkan lewat percakapan antara Maria dan Malaikat Allah di rumah. Inilah caranya Lukas, dan hanya dialah yeng dengan semangat injili mau mengangkat harkat dan martabat kaum tertindas ke atas panggung kehidupan social dimana ada keadilan dan kejujuran. Sikap mental yang diskriminatis, arogan, kolonialis terhadap sang wanita bukan hanya terdapat pada masa lalu tetapi sampai saat ini pun masih juga menguasai benak kaum pria, bukan hanya di masyarakat politik dan keluarga saja tetapi terlebih dalam kehidupan iman keagamaan, dalam gereja kristen pada umumnya dan gereja Roma secara khusus.
Para klerus – yang saat kini sedang dalam krisis identitasnya – berusaha untuk memperbaiki kredibilitas dirinya di mata umat, berusaha dengan berbagai cara untuk mencoba membangun kembali nilai panggilan dan mau menunjukan kepada dunia bahwa merekalah yang “terbaik”, sementara dunia terus dengan segalah kemampuan ilmu dan teknologi mau menunjukan yang sebaliknya. Para klerus mau berusaha untuk menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa dan yang memberi komando dalam gereja, sementara itu umat yang sudah cukup kritis mau membuka mata mereka dan menunjukkan bahwa gereja itu bisa jalan dan hidup bila umat mulai bergerak. Artinya bahwa, masa depan gereja bukan berada di tangan para klerus tetapi di tangan semua umat baptis. Kaum pria pada umumnya sedang dalam krisis identitas karena kaum wanita, dengan terang kuasa Roh Allah, semakin menunjukkan kepada dunia bahwa tanpa mereka tak akan ada kehidupan di dunia ini. Mereka mau menunjukkan bahwa pada saat Allah mau menyelamatkan dunia, justru wanitalah yang dicari untuk membuka pintu dirinya agar Allah dapat lahir ke dunia dalam rupa manusia seperti kita, menginculturasikan dirinya dalam dunia.
Tindakan Allah itu justru semakin menantang kita kaum pria. Apakah kita merasa tersentuh oleh hal itu? Bagaimana sikap kita setelah membaca teks injil Lukas ini? Saya yakin, bahwa sebahagian besar dari para klerus dalam homilinya hari ini tidak akan menyentuh realita itu karena akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ketidak adilan dalam gereja, dalam kehidupan keagamaan pada umumnya, dalam masyarakat keluarga dan politik masih meraja dari hari ke hari, bahkan di dalam milenium ketiga. Itu menunjukkan bahwa iman keagamanaan pada umumnya da kekristenana khususnya masih belum mampu memanusiakan manusia, agama masih belum berdaya mengangkat hartat dan nilai insan ciptaan Allah. Kehidupan keluarga, politik dan agama masih terus dimanipulasi oleh kaum pria untuk kepentingan status. Artinya bahwa masih belum dihidupi secara jujur dan adil.
Semoga hari Natal membawa pembaharuan hidup baik itu dalam kehidupan keluarga, masyarakat social, politik maupun gereja kristen, pada khususnya serta agama-agama pada umumnya.
______&&&_______ BH., Brasil, 18/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM


[1] Kanon Muratori, juga dikenal dengan nama fragmen muratoris, adalah sebuah kutipan, atau daftar daftar yang tertua – dalam bahasa latin – tentang buku-buku Kitab Suci Perjanjian Baru yang ditemukan oleh seorang ahli sejarah berkebangsaan Itali, Ludovico Antonio Muratori, di perpustakaan Santo Ambrosius, dan kemudian dipublikasikan pada tahun 1740. Banyak ahli menduga bahwa daftar itu ditulis oleh Hipolitus, pada abad ke 2, dalam bahasa yunani.
[2] Dengan itu Lukas mau menyampaikan kepada para pembacanya bahwa di hadapan Tuhan, pria Dan wanita adalah sama derajat dan nilai, tidak ada yang lebih utama. Adalah suatu ironi terhadap mentalitas maskulin yang pada zaman itu menganggap wanita sebagai kelas “kambing”, didiskriminasikan, tidak mendapar perhatian, bahkan disamakan dengan barang milik dari sang pria (suami atau ayah).

sábado, 10 de dezembro de 2011

KERENDAHAN HATI: DASAR KEDEWASAAN DARI CINTA YANG BIJAK LAGI SEIMBANG

 “Sikap kerendahan hati adalah dasar dan pangkal dari segala kebijakkan dan tanpa dia semuanya akan mustahil”[1].
Refleksi Injil untuk minggu ke III masa Adven, 11/12-2011
(Jo 1,6-8.19-28)
S

iapakah engkau? Siapakah aku? Siapakah mereka? Siapakah kita ini? Begitulah penginjil dari komunitas-Gereja Santo Yohanes memulai “program minggu teologisnnya” dengan berbagai pertanyaan mengenai identifikasi diri dan fungsi misi: “siapakah ...?”. Pertanyaan itu, bagi kita, diibaratken sebagai suatu “jendela” terbuka yang memaparkan panorama alam kehidupan pribadi dan bersama serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Jelasnya bahwa, pertanyaan itu menggambarkan suatu situasi krisis: identitas diri, relasi antar generasi, kredibilitas kepemimpinan, fungsi misi, kepercayaan akan harapan hidup masa depan, kedewasaan dan keseimbangan psikologis dalam hubungannya dengan generasi muda, krisis moral dan etika social-politik, nilai etis dari religius-adat   serta budaya dan hubungan hidup kekeluargaan, dan lain-lainnya.
Sebagaimana penginjil yang lainnya, santu Yohanes pun mengapresentasikan Yohanes pemandi sebagai saksi mata dari Yesus dari Nazaret. Semua penginjil setuju bahwa Yohanes pemandi adalah “suara” yang menggema di ”padang gurun” kehidupan yang tak henti-hentinya memanggil perhatian semua umat manusia kepada Yesus, dialah yang menunjuk ke arah di mana adanya tanda-tanda terang yang sedang datang ke duania, dialah penghulu atau perintis jalan keselamatan bagi Kristus; dia bukannya nabi, bukan pula Elias dan juga bukan Mesias yang dinanti-nantikan, tetapi adalah utusan Allah untuk memberikan kesaksian tentang terang penyelamat dan dari kesaksiannya itulah yang menyebabkan lahirnya iman kehidupan yang kristis. Semua mereka sependapat bahwa Yohanes pemandi adalah model dari kerendahan hati, dari kebijaksanaan kasih, dari keterbukaan, pendamai antar generasi, orang yang tahu diri dan tempatnya, yang tahu memberikan “nilai” baru bagi hidup, yang mengerti apa arti menyelamatkan harapan akan masa depan. Tahu membedakan yang lama, yang sudah kadarluasa dan yang baru, yang masih segar, yang lebih dinamis. Semua mereka sepaham bahwa dinamika dan nilai baru kehidupan itu berada, sebahagian besarnya, di pundak generasi muda, di tangan merekalah harapan hidup masa depan. Apa yang sudah kadarluasa, yang sudah habis masa lakunya perlu turun dari panggung untuk memberikan kesempatan kepada generasi baru sebagai penerus masa depan kehidupan.
Utusan dari para imam, para ahli taurat musa dan pemuka-pemuka masyarakat dan agama untuk mengivestigasikan Yohanes pemandi dengan tujuan agar, dari jawabannya, bisa dapat membantu mereka untuk dapat pula mengenal diri sendiri. Dari jawaban (kesaksian) dari Yohanes pemandi terselip dua hal utama: pertama, menunjukkan sikap kesederhanaan hati dan kebijaksanaan dari Yohanes pemandi sebagai teladan dari generasi tua yang tahu diri dan tempatnya, yang mampu membaca tanda-tanda zaman serta mengaplikasikannya dalam hidup konkret dengan penuh rasa tanggungjawab; dan yang kedua, merupakan ironi sekaligus tuduhan akan kebuta-tulian dari para imam dan kaum ahli taurat serta pemuka-pemuka masyarakat dan agama. Karena itulah makanya berkata: “Saya bukan Nabi terjanji bukan pula Elias dan juga bukan Mesias yang dinanti-nantikan itu. Saya adalah suara yang berteriak di padang gurun (....). Saya membaptis dengan air; tetapi Dia yang berada di tengah-tengah kamu yang kamu tidak kenal (tuduhan), yang datang kemudian dari padaku. Saya ini tidak pantas, bahkan walau sekedar untuk tunduk dan membuka tali kasutnya” (ay. 20.21.23.26.27). Betapa kita sering buta melihat kehadiran Allah dalam diri sesama yang hadir dan hidup di tengah kita, lagi pula tuli untuk mendengarkan suaranya yang terus menerus mengema di telinga kita, yang memanggil kita dengan nama sendiri. Betapa kita sering tidak menghargai dan tidak mampu percaya akan bakat kepemimnan dari generasi muda dan mau memaksakan kehendak untuk mereka mengikuti saja apa yang kita mau dengan berlatarbelakang ketaatan – yang buta, yang irasionil dan kekanak-kanakkan. Sikap kerendahan hati dan kesaksian yang bijak dari Yohanes pemandi dalam usaha mempromosikan Yesus sebagai generasi penerus yang pantas membawa terang harapan hidup akan masa depan, membuat Yesus melakukan hal yang sama, ketika berkata bahwa dari semua laki-laki yang telah lahir dari perempuan, belum pernah ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes pemandi. Inilah sikap dan teladan kebijakkan yang saling menghargai, saling mempromosikan kehidupan, sikap kerendahan hati dan saling mengenal diri dan orang lain, sikap mengutamakan orang lain.
Bagaimana dengan sikap hidup dan teladan kepemimpinan kita di dalam masyarakat, dalam instansi kepemerintahan di mana kita berkaraya, dalam keluarga sebagai pola panutan anak-anak, serta bagaimana pula kepemimpinan kita di dalam gereja, dan dalam kongregasi serta di komunitas-komunitas religius kita? Apakah kita mampu mengenal kehadiran Allah dalam diri generasi muda? Apakah kita mampu mendengarkan seruan Allah lewat suara mereka yang memaparkan inspirasi baru kehidupan dalam konteks dunia baru yang beruabah-ubah ini? Apakah kita cukup sadar diri lagi percaya bahwa Allah sendiri hadir dan hidup dalam diri mereka? Tuhan mau melihat kita bahagia! Tetapi bagaimana dengan sikap kita sendiri, apakah kita pun ingin bahagia sebagaimana yang dikehendaki Allah? Apakah kita cukup rendah hati dan berani untuk memberikan kesempatan kepemimpinan kepada generasi muda, atau curiga dan takut, dan mau mempromosikan diri sendiri serta kelas atau golongan kita dengan sikap menyepelehkan suara kaum muda? Bagaimana kita sedang mempersiapkan generasi muda, yang secara teori dikatakan sebagai penerus lagi pengemban harapan bagi masa depan? Apa teladan konkrit, yang baik, yang sedang kita wariskan kepada mereka, baik itu dalam masyarakat negara, dalam keluarga, dalam gereja, dalam kongregasi dan dalam komunitas-komunitas religius kita?
________&&&________ Brasil, 10/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng,CMM.


[1] Miguel de Cervantes Saavedra de Alcala Henares atau dikenal dengan panggilan, Miguel Cervantes (1547 - 1616) adalah seorang puitis spanyol yang terkenal. Karya-karya puisinya merupakan buku kedua yang paling dibaca orang setelah Kitab Suci.

sábado, 3 de dezembro de 2011

MENGENAL DIRI DAN ORANG LAIN ADALAH SIKAP JIWA DARI ORANG YANG DEWASA, BIJAKSANA, SEIMBANG DAN BERTANGGUNGJAWAB

Usia tidak membangun keseimbangan hidup, tidak pula memberikan arti maupun jaminan kedewasaan bagi seseorang; pengalaman adalah guru setia yang menghantar setiap kita melalui jalan kesabaran dan perjuangan menuju ke kedewasaan yang mantap, keseimbangan dan semangat bertanggungjawab. 

Refleksi Injil untuk hari minggu ke II dalam masa Adven, 04/12-2011.
(Mrk 1,1-8)
A

da empat hal dari bacaan Injil yang perlu menjadi bahan refleksi kita pada minggu kedua dari masa adven ini. Yang pertama, menyangkut deklarasi dari penulis sebagai pembukaan penginjilannya: “Inilah permulaan Kabar Baik Yesus Kristus, Putra Allah” (ay.1). Yang kedua, menyangkut peran dari Yohanes Pembaptis dalam penginjilan Markus; yang ketiga, mengenai nilai simbolis dari padang gurun, makanan dan pakaian dari Yohanes Pembaptis; dan yang keempat, berhubungan dengan sikap dan pandangan dari Yohanes Pembatis dalam kaitannya dengan Jesus Kristus.
Pertama
Di tengah kebimbang-raguan dari umat beriman dalam kumunitas-Gereja Markus, penulis, dengan suaranya yang meyakinkan, membuat suatu kejutan dengan deklarasinya yang menguak harapan kegembiraan dan kekuatan baru bagi kehidupan iman umat: “Yesus dari Nazaret, Kristus-saudara kita yang berbelaskasih, adalah Putra Allah”. Deklarasi pembukaan ini yang kemudian mendapatkan gemanya dari mulut kepala pasukan yang berdiri di kaki salib menyaksikan wafatnya Yesus: “Sungguh, orang ini adalah Putra Allah” (15,39). Begitulah, penulis Markus dengan pedagogi khas penginjilannya menempatkan sejarah perjalanan hidup Yesus antara afirmasi awal dan konfirmasi konklusif. Artinya bahwa, Yesus adalah Putra Allah sejak dahulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Dia adalah yang “Kuat” dari terkuat dalam rumah (3,27) karena itulah makanya layak disebut Putra Allah. Untuk itu tidaklah perlu takut atau pun ragu untuk menaruhkan harapan hidup padanya, karena dalam dia ada ketenangan dan kepercayaan. Boleh jadikan dia sebagai teman setiamu dalam menyebrangi lautan kehidupan, karena dengannya, bahaya dari percikan-percikan ombak pengguncang keberanian tidak akan ditransformasikan menjadi samudra yang bergelombang amuk yang dapat mematikan harapan keselamatan dan menghalangi perjalanan penyebrangan serta tidak pula mengancam untuk menghancurkan biduk kehidupan kita semua. Yesus dari Nazaret, menurut penginjil ini, adalah Warta Gembira (euangelion) Allah dalam rupa manusia yang hidup dan berkarya di antara kita. Dialah yang dijanjikan Allah untuk membawa, kepada dunia, harapan baru bagi kehidupan, mengusulkan relasi baru yang penuh damai antara yang berbeda, mengumumkan saat baru berrahkmad bagi keselamatan seluruh umat manusia sebagaimana sudah di nubuatkan oleh nabi Yesaya (cf. Yes 52,7).
Kedua
Nabi Yesaya, dalam teks Markus ini, dijadikan sebagai otoritas referensial historis dari masa penantian perjanjian penyelamatan Allah, untuk menghantar masuknya Yohanes pembaptis dalam panggung pengumuman tentang Yesus Kristus sebagai Injil hidup Tuhan di dunia. Peran dari Yohanes pembaptis di sini adalah sebagai suara di padang gurun kehidupan yang berseru tak henti-hentinya, memanggil perhatian setiap umat manusia kepada Yesus serta merevelasikannya sebagai Penyelamat terjanji yang datang membawakan pembaharuan serta kegembiraan hidup bagi semua insan. Dia adalah pendahulu, yang datang untuk merintis jalan bagi sang Penyelamat.
ketiga
Pakaian yang dikenakan Yohanes (yang terbuat dari bulu unta), ikat pinggang kulit serta belalang dan madu sebagai makanan dan minumannya, semuanya itu melambangkan kegersangan yang menawan, kepedihan yang gembira, keterisolasian atau kesepian yang tertemani, kekeringan yang subur dari kehidupan umat manusia. Itu artinya, bahwa ada selalu tantangan sekaligus kesempatan, ada krisis yang dalam sekalugus juga pertumbuhan kedewasaan bagi hidup iman dan kasih. Pengalaman hidup inilah bila dihidupi dengan semangat kesabaran dan perjuangan akan menghantarkan setiap kita menuju ke kedewasaan hidup yang seimbang, yang bijaksana serta bertanggungjawab dalam relasi sehari-hari baik itu antar lawan jenis mau pun antar generasi.
Keempat
Markus memperkenalkan Yohanes pembaptis sebagai seseorang yang sungguh dewasa, rendah hati lagi bijaksana, orang yang memiliki keseimbangan dan tanggungjawab, yang tahu akan momen yang tepat untuk memberikan kesempatan bagi yang lain. Orang jenis ini adalah orang yang mampu lagi sadar akan keadaan diri sendiri dan mengenal orang lain sebagai yang layak untuk menduduki tampuk kepemimpinan, karena itulah makanya ia berkata: “Setelah aku akan datang yang lebih berkuasa daripadaku. Aku telah membaptis kamu dengan air, tetapi ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Aku tidak layak membungkuk dan membuka tali kasutnya” (ay.7-8). Pengakuan Yohanes Pembaptis yang bijaksana dan penuh kerendahan hati ini adalah merupakan kunci penginjilan dari Markus sebagai awal dari segala karya keselamatan Allah yang akan direalisasikan oleh Yesus Kristus. Yohanes, lewat kata-katanya membuka jalan bagi Yesus. Dialah yang merupakan pembawa pembaharuan bagi hidup umat manusia. Yohanes mengenal dirinya sendiri sebagai yang tidak lagi layak bertengger di puncak kepemimpinan, tidak lagi relevan dengan situasi baru dan dengan dinamikanya sendiri. Yesus, sebagai generasi baru dalam kehidupan, dia adalah yang pantas lagi layak untuk menempati tempat itu untuk menjadikan baru, segala sesuatu.
Sikap dari Yohanes ini merevelasikan kualitas kesederhanaan hati dari seorang yang memiliki kebijaksanaan yang patut dicontohi dalam kehidupan kita, baik dalam Gereja mau pun dunia, baik dalam keluarga mau pun dalam komunitas-komunitas religius. Jelaslah sudah bahwa bila yang tua tidak sadarkan diri dan juga tidak mengenal keterbatasannya dan mau terus bertengger di atas kekuasaan maka pasti bahwa yang baru tidak akan lahir. Ini akan berakibatkan kematian dari hidup itu sendiri. Hidup menjadi seperti bunga plastik di atas meja, hanya nampak seolah bercahaya tetapi faktanya tidak ada kehidupan juga tidak menyebarkan aroma. Ungkapan jiwa dari Yohanes sekaligus merupakan kritikan tajam terhadap para petuah masyarakat, para pemimpin agama dan pemerintah yang kendati sudah pikun dan cara kehidupan serta pikiran-pikirannya tidak lagi memberi pengaruh untuk membangun semangat hidup baru, mau terus berkuasa dan tidak mau memberikan kesempatan kepada generasi muda yang diwakili oleh Yesus dari Nazaret. Sebaliknya, mereka mau bersekongkol untuk mengeliminasikannya dari panggung kehidupan. Hal yang sama ini pula sering terjadi dalam keluarga di mana orang tua selalu cenderung untuk berkuasa dalam kehidupan rumah-tangga anak-anaknya. Mau memperlakukan anak-anaknya seperti barang dan bukan seperti manusia berbeda yang mempunyai rasa, pikiran dan keinginan sendiri. Orang tua yang tidak tahu diri, tidak akan mampu untuk mengenal diri sendiri dan memberikan kepercayaan kepada generasi muda (anak-anaknya) untuk belajar mandiri, belajar hidup dewasa dan bertanggungjawab. Orang tua dan para pemimpin tua dalam berbagai institusi kehidupan seperti ini tidak sadar bahwa sikap mereka itu diibaratkan seperti “kantong-kantong tua yang coba menahan tekanan kekuatan dari anggur baru” (2,22). Seorang teolog Brasil kelahiran Belgia, almarhum Yoseph Comblin, pernah berkata bahwa: “dalam Gereja dan kongregasi serta komunitas-komunitas religius sebahagian besarnya dipenuhi oleh tipe dari kepemimpinan yang gerentokratis”.
Masa adven ini adalah merupakan saat penting bagi gereja, keluarga dan pemerintah, bagi semua mereka yang tua dan tidak lagi membawa nafas pembaharuan hidup untuk berefleksi, bermetanoia, bercermin diri lebih dalam untuk selanjutnya mangambil sikap yang bijak lagi terpuji demi kehidupan umat manusia di masa baru yang menuntut semangat baru pula. Umat manusia tidak lagi mampu melihat generasi generasi tua terus menonjolkan diri seolah-olah mampu untuk berkuasa. Perlu sikap kerendahan hati dari diri sendiri dan tidak perlu adanya desakkan atau pun kritikan, sebagaimana terjadi dalam dunia politik. Gereja dan kongregasi semuanya seharusnya mampu memberikan teladan yang bijak bagi dunia. Tetapi harapan itu nampaknya jauh dari jangkauan pikiran dari mereka-mereka yang berkepentingan. Dan itu membuat ketidak-tertarikan orang akan kehidupan, memnimbulkan kebosanan, kejenuhan hidup yang monoton dan otoriter, yang kolonialis lagi feudalis.
________&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 03/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.