“Usia tidak membangun keseimbangan hidup, tidak pula memberikan arti maupun jaminan kedewasaan bagi seseorang; pengalaman adalah guru setia yang menghantar setiap kita melalui jalan kesabaran dan perjuangan menuju ke kedewasaan yang mantap, keseimbangan dan semangat bertanggungjawab”.
Refleksi Injil untuk hari minggu ke II dalam masa Adven, 04/12-2011.
(Mrk 1,1-8)
A |
da empat hal dari bacaan Injil yang perlu menjadi bahan refleksi kita pada minggu kedua dari masa adven ini. Yang pertama, menyangkut deklarasi dari penulis sebagai pembukaan penginjilannya: “Inilah permulaan Kabar Baik Yesus Kristus, Putra Allah” (ay.1). Yang kedua, menyangkut peran dari Yohanes Pembaptis dalam penginjilan Markus; yang ketiga, mengenai nilai simbolis dari padang gurun, makanan dan pakaian dari Yohanes Pembaptis; dan yang keempat, berhubungan dengan sikap dan pandangan dari Yohanes Pembatis dalam kaitannya dengan Jesus Kristus.
Pertama
Di tengah kebimbang-raguan dari umat beriman dalam kumunitas-Gereja Markus, penulis, dengan suaranya yang meyakinkan, membuat suatu kejutan dengan deklarasinya yang menguak harapan kegembiraan dan kekuatan baru bagi kehidupan iman umat: “Yesus dari Nazaret, Kristus-saudara kita yang berbelaskasih, adalah Putra Allah”. Deklarasi pembukaan ini yang kemudian mendapatkan gemanya dari mulut kepala pasukan yang berdiri di kaki salib menyaksikan wafatnya Yesus: “Sungguh, orang ini adalah Putra Allah” (15,39). Begitulah, penulis Markus dengan pedagogi khas penginjilannya menempatkan sejarah perjalanan hidup Yesus antara afirmasi awal dan konfirmasi konklusif. Artinya bahwa, Yesus adalah Putra Allah sejak dahulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Dia adalah yang “Kuat” dari terkuat dalam rumah (3,27) karena itulah makanya layak disebut Putra Allah. Untuk itu tidaklah perlu takut atau pun ragu untuk menaruhkan harapan hidup padanya, karena dalam dia ada ketenangan dan kepercayaan. Boleh jadikan dia sebagai teman setiamu dalam menyebrangi lautan kehidupan, karena dengannya, bahaya dari percikan-percikan ombak pengguncang keberanian tidak akan ditransformasikan menjadi samudra yang bergelombang amuk yang dapat mematikan harapan keselamatan dan menghalangi perjalanan penyebrangan serta tidak pula mengancam untuk menghancurkan biduk kehidupan kita semua. Yesus dari Nazaret, menurut penginjil ini, adalah Warta Gembira (euangelion) Allah dalam rupa manusia yang hidup dan berkarya di antara kita. Dialah yang dijanjikan Allah untuk membawa, kepada dunia, harapan baru bagi kehidupan, mengusulkan relasi baru yang penuh damai antara yang berbeda, mengumumkan saat baru berrahkmad bagi keselamatan seluruh umat manusia sebagaimana sudah di nubuatkan oleh nabi Yesaya (cf. Yes 52,7).
Kedua
Nabi Yesaya, dalam teks Markus ini, dijadikan sebagai otoritas referensial historis dari masa penantian perjanjian penyelamatan Allah, untuk menghantar masuknya Yohanes pembaptis dalam panggung pengumuman tentang Yesus Kristus sebagai Injil hidup Tuhan di dunia. Peran dari Yohanes pembaptis di sini adalah sebagai suara di padang gurun kehidupan yang berseru tak henti-hentinya, memanggil perhatian setiap umat manusia kepada Yesus serta merevelasikannya sebagai Penyelamat terjanji yang datang membawakan pembaharuan serta kegembiraan hidup bagi semua insan. Dia adalah pendahulu, yang datang untuk merintis jalan bagi sang Penyelamat.
ketiga
Pakaian yang dikenakan Yohanes (yang terbuat dari bulu unta), ikat pinggang kulit serta belalang dan madu sebagai makanan dan minumannya, semuanya itu melambangkan kegersangan yang menawan, kepedihan yang gembira, keterisolasian atau kesepian yang tertemani, kekeringan yang subur dari kehidupan umat manusia. Itu artinya, bahwa ada selalu tantangan sekaligus kesempatan, ada krisis yang dalam sekalugus juga pertumbuhan kedewasaan bagi hidup iman dan kasih. Pengalaman hidup inilah bila dihidupi dengan semangat kesabaran dan perjuangan akan menghantarkan setiap kita menuju ke kedewasaan hidup yang seimbang, yang bijaksana serta bertanggungjawab dalam relasi sehari-hari baik itu antar lawan jenis mau pun antar generasi.
Keempat
Markus memperkenalkan Yohanes pembaptis sebagai seseorang yang sungguh dewasa, rendah hati lagi bijaksana, orang yang memiliki keseimbangan dan tanggungjawab, yang tahu akan momen yang tepat untuk memberikan kesempatan bagi yang lain. Orang jenis ini adalah orang yang mampu lagi sadar akan keadaan diri sendiri dan mengenal orang lain sebagai yang layak untuk menduduki tampuk kepemimpinan, karena itulah makanya ia berkata: “Setelah aku akan datang yang lebih berkuasa daripadaku. Aku telah membaptis kamu dengan air, tetapi ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Aku tidak layak membungkuk dan membuka tali kasutnya” (ay.7-8). Pengakuan Yohanes Pembaptis yang bijaksana dan penuh kerendahan hati ini adalah merupakan kunci penginjilan dari Markus sebagai awal dari segala karya keselamatan Allah yang akan direalisasikan oleh Yesus Kristus. Yohanes, lewat kata-katanya membuka jalan bagi Yesus. Dialah yang merupakan pembawa pembaharuan bagi hidup umat manusia. Yohanes mengenal dirinya sendiri sebagai yang tidak lagi layak bertengger di puncak kepemimpinan, tidak lagi relevan dengan situasi baru dan dengan dinamikanya sendiri. Yesus, sebagai generasi baru dalam kehidupan, dia adalah yang pantas lagi layak untuk menempati tempat itu untuk menjadikan baru, segala sesuatu.
Sikap dari Yohanes ini merevelasikan kualitas kesederhanaan hati dari seorang yang memiliki kebijaksanaan yang patut dicontohi dalam kehidupan kita, baik dalam Gereja mau pun dunia, baik dalam keluarga mau pun dalam komunitas-komunitas religius. Jelaslah sudah bahwa bila yang tua tidak sadarkan diri dan juga tidak mengenal keterbatasannya dan mau terus bertengger di atas kekuasaan maka pasti bahwa yang baru tidak akan lahir. Ini akan berakibatkan kematian dari hidup itu sendiri. Hidup menjadi seperti bunga plastik di atas meja, hanya nampak seolah bercahaya tetapi faktanya tidak ada kehidupan juga tidak menyebarkan aroma. Ungkapan jiwa dari Yohanes sekaligus merupakan kritikan tajam terhadap para petuah masyarakat, para pemimpin agama dan pemerintah yang kendati sudah pikun dan cara kehidupan serta pikiran-pikirannya tidak lagi memberi pengaruh untuk membangun semangat hidup baru, mau terus berkuasa dan tidak mau memberikan kesempatan kepada generasi muda yang diwakili oleh Yesus dari Nazaret. Sebaliknya, mereka mau bersekongkol untuk mengeliminasikannya dari panggung kehidupan. Hal yang sama ini pula sering terjadi dalam keluarga di mana orang tua selalu cenderung untuk berkuasa dalam kehidupan rumah-tangga anak-anaknya. Mau memperlakukan anak-anaknya seperti barang dan bukan seperti manusia berbeda yang mempunyai rasa, pikiran dan keinginan sendiri. Orang tua yang tidak tahu diri, tidak akan mampu untuk mengenal diri sendiri dan memberikan kepercayaan kepada generasi muda (anak-anaknya) untuk belajar mandiri, belajar hidup dewasa dan bertanggungjawab. Orang tua dan para pemimpin tua dalam berbagai institusi kehidupan seperti ini tidak sadar bahwa sikap mereka itu diibaratkan seperti “kantong-kantong tua yang coba menahan tekanan kekuatan dari anggur baru” (2,22). Seorang teolog Brasil kelahiran Belgia, almarhum Yoseph Comblin, pernah berkata bahwa: “dalam Gereja dan kongregasi serta komunitas-komunitas religius sebahagian besarnya dipenuhi oleh tipe dari kepemimpinan yang gerentokratis”.
Masa adven ini adalah merupakan saat penting bagi gereja, keluarga dan pemerintah, bagi semua mereka yang tua dan tidak lagi membawa nafas pembaharuan hidup untuk berefleksi, bermetanoia, bercermin diri lebih dalam untuk selanjutnya mangambil sikap yang bijak lagi terpuji demi kehidupan umat manusia di masa baru yang menuntut semangat baru pula. Umat manusia tidak lagi mampu melihat generasi generasi tua terus menonjolkan diri seolah-olah mampu untuk berkuasa. Perlu sikap kerendahan hati dari diri sendiri dan tidak perlu adanya desakkan atau pun kritikan, sebagaimana terjadi dalam dunia politik. Gereja dan kongregasi semuanya seharusnya mampu memberikan teladan yang bijak bagi dunia. Tetapi harapan itu nampaknya jauh dari jangkauan pikiran dari mereka-mereka yang berkepentingan. Dan itu membuat ketidak-tertarikan orang akan kehidupan, memnimbulkan kebosanan, kejenuhan hidup yang monoton dan otoriter, yang kolonialis lagi feudalis.
________&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 03/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.
Nenhum comentário:
Postar um comentário