Refleksi Injil untuk minggu ke IV masa Adven, 18/12-2011
N |
(Luk 1,26-38)
ama penulis dari Injil ke tiga, Santu Lukas, seperti yang kita kenal sampai saat ini, bukan berasal dari sang penulis itu sendiri tetapi dari suatu tradisi gereja “kuno”, seperti terdapat pada daftar kanonik Muratori[1]. Itu terjadi karena pada jaman dahulu para penulis tidak mau menandatangani tulisan mereka tetapi selalu memasang nama dari orang-orang yang dianggap cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, nama mereka itulah dipasang seolah-olah karya dari orang-orang tersebut, sementara sang penulis yang sebenarnya menyamar di balik nama dari orang-orang itu.
Bila dipertemukan sejarah kelahiran Yohanes pemandi dengan harapan penyelamatan bangsa Yahudi, maka akan terlihat hal baru dari aksi keselamatan Allah justru terfokuskan pada berita tentang kelahiran Yesus dari Nazaret. Itu artinya, bahwa Yesus dari Nazaret merupakan pemenuhan dari nubuat para nabi tentang perjanjian penyelamatan bangsa Yahudi sebagaimana yang diharapkan: dari keturunan raja Daud. Hal lain yang terlihat baru dalam aksi Allah di sini adalah peran utama Maria dari Nazaret. Dia menjadi figur yang membuka tabir baru kehidupan iman umat, yang menguakkan harapan baru kehidupan, yang menumbuhkan keprecayaan diri bangsa akan kemampuan pribadi dalam kerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan hidup umat menusia. Cahaya iman seorang perempuan desa menjadi titik referensial bagi dunia relasi dan komonikasih antara manusia satu dengan yang lain dan antara manusia dengan Allahnya. Hal inilah yeng membuat baru dalam pewartaan Khabar Gembira: kekutan iman dari seorang wanita desa mampu mempesona hati Allah, berbeda dengan berita tentang kelahiran dari Yohanes pemandi[2].
Begitulah, sesuai Warta Baru dari Yesus lukanis, Tuhan menjadikan semuanya baru di seluruh muka bumi, mulai dari perubahan tempat geografis (dari Judea ke Galilea, wilayah yang didiskriminasikan oleh Judea) dari pemberitahuan tentang kelahiran dari sang Penyelamat sampai pada perubahan figur utama dalam awal karya keselamatan Allah (dari Zakarias kepada Maria), serta pemahaman akan peran dari Roh Allah itu sendiri dalam proses kelahiran Yesus yang diharapkan sebagai sang Mesias terjanji (Yohanes pemandi dipenuhi oleh Roh Kudus semenjak dalam rahim dari Elisabet, ibunya; Semetara itu Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria di bawah kekuatan Roh Kudus).
Hal yang paling penting dari semua itu adalah maksud dari penginjil yang terselip di balik dari semua elemen itu: iman dari seorang perempuan desa yang mampu mempesona hati Tuhan; hal itu tak mungkin bagi manusia – yang memiliki mentalitas diskriminatis, arogan dan kolonialis - tetapi “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (ay. 37). Ini jelas pada saat memunculkan Maria sebagai figur utama yang membuka tabir kehidupan baru. Perempuan beriman berdiskusi dengan Malaikat Allah untuk mau memahami pikiran Tuhan yang berkaitan dengan misteri kehidupan yang sepanjang sejarah dimanipulasikan oleh kaum pria. Peristiwa itu disimbolisasikan dengan tindakan Malaikat yang membisukan mulut dari Zakarias di bait Allah. Adegan baru kehidupan yang kristis disimbolkan lewat percakapan antara Maria dan Malaikat Allah di rumah. Inilah caranya Lukas, dan hanya dialah yeng dengan semangat injili mau mengangkat harkat dan martabat kaum tertindas ke atas panggung kehidupan social dimana ada keadilan dan kejujuran. Sikap mental yang diskriminatis, arogan, kolonialis terhadap sang wanita bukan hanya terdapat pada masa lalu tetapi sampai saat ini pun masih juga menguasai benak kaum pria, bukan hanya di masyarakat politik dan keluarga saja tetapi terlebih dalam kehidupan iman keagamaan, dalam gereja kristen pada umumnya dan gereja Roma secara khusus.
Para klerus – yang saat kini sedang dalam krisis identitasnya – berusaha untuk memperbaiki kredibilitas dirinya di mata umat, berusaha dengan berbagai cara untuk mencoba membangun kembali nilai panggilan dan mau menunjukan kepada dunia bahwa merekalah yang “terbaik”, sementara dunia terus dengan segalah kemampuan ilmu dan teknologi mau menunjukan yang sebaliknya. Para klerus mau berusaha untuk menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa dan yang memberi komando dalam gereja, sementara itu umat yang sudah cukup kritis mau membuka mata mereka dan menunjukkan bahwa gereja itu bisa jalan dan hidup bila umat mulai bergerak. Artinya bahwa, masa depan gereja bukan berada di tangan para klerus tetapi di tangan semua umat baptis. Kaum pria pada umumnya sedang dalam krisis identitas karena kaum wanita, dengan terang kuasa Roh Allah, semakin menunjukkan kepada dunia bahwa tanpa mereka tak akan ada kehidupan di dunia ini. Mereka mau menunjukkan bahwa pada saat Allah mau menyelamatkan dunia, justru wanitalah yang dicari untuk membuka pintu dirinya agar Allah dapat lahir ke dunia dalam rupa manusia seperti kita, menginculturasikan dirinya dalam dunia.
Tindakan Allah itu justru semakin menantang kita kaum pria. Apakah kita merasa tersentuh oleh hal itu? Bagaimana sikap kita setelah membaca teks injil Lukas ini? Saya yakin, bahwa sebahagian besar dari para klerus dalam homilinya hari ini tidak akan menyentuh realita itu karena akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ketidak adilan dalam gereja, dalam kehidupan keagamaan pada umumnya, dalam masyarakat keluarga dan politik masih meraja dari hari ke hari, bahkan di dalam milenium ketiga. Itu menunjukkan bahwa iman keagamanaan pada umumnya da kekristenana khususnya masih belum mampu memanusiakan manusia, agama masih belum berdaya mengangkat hartat dan nilai insan ciptaan Allah. Kehidupan keluarga, politik dan agama masih terus dimanipulasi oleh kaum pria untuk kepentingan status. Artinya bahwa masih belum dihidupi secara jujur dan adil.
Semoga hari Natal membawa pembaharuan hidup baik itu dalam kehidupan keluarga, masyarakat social, politik maupun gereja kristen, pada khususnya serta agama-agama pada umumnya.
______&&&_______ BH., Brasil, 18/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM
[1] Kanon Muratori, juga dikenal dengan nama fragmen muratoris, adalah sebuah kutipan, atau daftar daftar yang tertua – dalam bahasa latin – tentang buku-buku Kitab Suci Perjanjian Baru yang ditemukan oleh seorang ahli sejarah berkebangsaan Itali, Ludovico Antonio Muratori, di perpustakaan Santo Ambrosius, dan kemudian dipublikasikan pada tahun 1740. Banyak ahli menduga bahwa daftar itu ditulis oleh Hipolitus, pada abad ke 2, dalam bahasa yunani.
[2] Dengan itu Lukas mau menyampaikan kepada para pembacanya bahwa di hadapan Tuhan, pria Dan wanita adalah sama derajat dan nilai, tidak ada yang lebih utama. Adalah suatu ironi terhadap mentalitas maskulin yang pada zaman itu menganggap wanita sebagai kelas “kambing”, didiskriminasikan, tidak mendapar perhatian, bahkan disamakan dengan barang milik dari sang pria (suami atau ayah).
Nenhum comentário:
Postar um comentário