sábado, 24 de dezembro de 2011

NATAL: KELAHIRAN ALLAH DALAM RUPA MANUSIA AGAR MANUSIA DAPAT DILAHIRKAN KEMBALI DALAM ROH KETUHANAN

Refleksi Injil untuk hari Natal, 25/12-2011
(Luk 2,1-14)
B

ila diperhatikan secara saksama maka nampak jelas bagi kita bahwa penulis dari injil Lukas menunjukan, kepada para pembacanya, dimensi evolutif dari dinamika pikiranya yang selalu baru lagi gradual serta selalu bersifat provokatif lagi mengundang untuk berpikir dan berefleksi tentang misteri cinta Allah. Hal itu jelas terlihat, misalnya, pada bacaan pada minggu yang lalu (Luk 1,26-38) dimana ia menunjukkan suatu perubahan yang signifikan dari aksi malaikat Allah, mulai dari perubahan tempat geografis (Judea – pusat – ke Galilea – pinggiran – dan dari dalam ruang bait Allah – publik – ke dalam kamar pribadi dari rumah keluarga – privat) sampai pada perubahan figur principal (dari figur maskulin dan saserdotal, Zakarias ke figur feminim, seorang wanita rumah, pribadi dari seorang perempuan desa yang tak terkenal, Maria dari Nazaret).
Kali ini penulis, sekali lagi, menunjukkan kepada kita dinamika perubahan baru dari pikiran penginjilannya. Sekarang arah perubahan kembali, dari periferis ke sentral (dari keisolasian atau privasi di daerah pegunungan dan padang gurun di Galilea dan Judea ke arena publik politik dan social dari wilayah kekaisaran Roma; kejadian-kejadian yang bersifat ajaib di daerah terisolasi kini menjadi berita umum dan diketahui oleh semua masa umat). Semuanya itu, penulis mau menunjukkan kepada kita betapa Tuhan itu bebas bergerak; begitu bebasnya ia sehingga susah untuk dilacak oleh intelektu dari manusia yang serba terbatas. Juga mau menunjukkan bahwa kehidupan kita saat ini bergerak antara harapan akan masa depan (berita tentang kelahiran hidup baru – Yesus Kristus) dan pengalaman sejarah masa lalu (fakta dari kegiatan sosialpolitik yang dijadikan sebagai simbol pemikiran – sensus penduduk). Inilah dinamika metodik dari pengalaman Tuhan, menurut penginjil Lukas: periferis-sentral-periferis, privat-publik-privat dan inklusif-eklusif-inklusif.  Itulah ide lukanis dari keadilan Allah: Tuhan itu adil dalam segalah tindakannya dan tak pernah diskriminatif, tidak berat sebelah, selalu seimbang, bijaksana. Ia baik bagi mereka yang baik mau pun bagi yang masih kurang baik.
Tetapi, apa sebenarnya pesan yang paling dalam dari Natal itu sendiri bagi hidup umat manusia? Banyak orang, dalam masa natal mulai bertukar menukar hadiah, tetapi tidak “tukar” atau baharui mentalitas, sikap batin dan tindakan. Ada yang menghiasi rumahnya dengan warna warni, ada lain yang sibuk mengirim berpuluh-puluh kartu natal untuk keluarg, teman-teman akrabnya. Apakah itu magna utama natal?
Memang semua itu penting, merupakan bahagian dari pesta, tetapi bukan yang paling utama dalam hidup. Makna natal buat kehidupan manusia melampaui segala sesuatu: kelahiran Allah dalam realita hidup manusia adalah suatu sinyal agar umat manusia dapat dilahirkan kembali dalam Roh dan kebenaran Tuhan. Allah lahir dalam rupa manusia untuk belajar hidup sebagai mausia untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup kealahan Tuhan.
Natal membawah perubahan batin, mentalitas, merubah cara berpikir, cara bertindak, cara berelasi dengan diri, semana, alam dan dengan Tuhan pencipta itu sendiri.
Semoga Rahmat Natal 2011 melimpah dalam hidup anda sekalian sepanjang 2012. Semoga banyak rejeki, banyak sukses, sehat senantiasa dan damai sejahtera.
_________&&&_________ BH., 25/12-2011.
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

Nenhum comentário:

Postar um comentário