“Sikap kerendahan hati adalah dasar dan pangkal dari segala kebijakkan dan tanpa dia semuanya akan mustahil”[1].
Refleksi Injil untuk minggu ke III masa Adven, 11/12-2011
(Jo 1,6-8.19-28)
S |
iapakah engkau? Siapakah aku? Siapakah mereka? Siapakah kita ini? Begitulah penginjil dari komunitas-Gereja Santo Yohanes memulai “program minggu teologisnnya” dengan berbagai pertanyaan mengenai identifikasi diri dan fungsi misi: “siapakah ...?”. Pertanyaan itu, bagi kita, diibaratken sebagai suatu “jendela” terbuka yang memaparkan panorama alam kehidupan pribadi dan bersama serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Jelasnya bahwa, pertanyaan itu menggambarkan suatu situasi krisis: identitas diri, relasi antar generasi, kredibilitas kepemimpinan, fungsi misi, kepercayaan akan harapan hidup masa depan, kedewasaan dan keseimbangan psikologis dalam hubungannya dengan generasi muda, krisis moral dan etika social-politik, nilai etis dari religius-adat serta budaya dan hubungan hidup kekeluargaan, dan lain-lainnya.
Sebagaimana penginjil yang lainnya, santu Yohanes pun mengapresentasikan Yohanes pemandi sebagai saksi mata dari Yesus dari Nazaret. Semua penginjil setuju bahwa Yohanes pemandi adalah “suara” yang menggema di ”padang gurun” kehidupan yang tak henti-hentinya memanggil perhatian semua umat manusia kepada Yesus, dialah yang menunjuk ke arah di mana adanya tanda-tanda terang yang sedang datang ke duania, dialah penghulu atau perintis jalan keselamatan bagi Kristus; dia bukannya nabi, bukan pula Elias dan juga bukan Mesias yang dinanti-nantikan, tetapi adalah utusan Allah untuk memberikan kesaksian tentang terang penyelamat dan dari kesaksiannya itulah yang menyebabkan lahirnya iman kehidupan yang kristis. Semua mereka sependapat bahwa Yohanes pemandi adalah model dari kerendahan hati, dari kebijaksanaan kasih, dari keterbukaan, pendamai antar generasi, orang yang tahu diri dan tempatnya, yang tahu memberikan “nilai” baru bagi hidup, yang mengerti apa arti menyelamatkan harapan akan masa depan. Tahu membedakan yang lama, yang sudah kadarluasa dan yang baru, yang masih segar, yang lebih dinamis. Semua mereka sepaham bahwa dinamika dan nilai baru kehidupan itu berada, sebahagian besarnya, di pundak generasi muda, di tangan merekalah harapan hidup masa depan. Apa yang sudah kadarluasa, yang sudah habis masa lakunya perlu turun dari panggung untuk memberikan kesempatan kepada generasi baru sebagai penerus masa depan kehidupan.
Utusan dari para imam, para ahli taurat musa dan pemuka-pemuka masyarakat dan agama untuk mengivestigasikan Yohanes pemandi dengan tujuan agar, dari jawabannya, bisa dapat membantu mereka untuk dapat pula mengenal diri sendiri. Dari jawaban (kesaksian) dari Yohanes pemandi terselip dua hal utama: pertama, menunjukkan sikap kesederhanaan hati dan kebijaksanaan dari Yohanes pemandi sebagai teladan dari generasi tua yang tahu diri dan tempatnya, yang mampu membaca tanda-tanda zaman serta mengaplikasikannya dalam hidup konkret dengan penuh rasa tanggungjawab; dan yang kedua, merupakan ironi sekaligus tuduhan akan kebuta-tulian dari para imam dan kaum ahli taurat serta pemuka-pemuka masyarakat dan agama. Karena itulah makanya berkata: “Saya bukan Nabi terjanji bukan pula Elias dan juga bukan Mesias yang dinanti-nantikan itu. Saya adalah suara yang berteriak di padang gurun (....). Saya membaptis dengan air; tetapi Dia yang berada di tengah-tengah kamu yang kamu tidak kenal (tuduhan), yang datang kemudian dari padaku. Saya ini tidak pantas, bahkan walau sekedar untuk tunduk dan membuka tali kasutnya” (ay. 20.21.23.26.27). Betapa kita sering buta melihat kehadiran Allah dalam diri sesama yang hadir dan hidup di tengah kita, lagi pula tuli untuk mendengarkan suaranya yang terus menerus mengema di telinga kita, yang memanggil kita dengan nama sendiri. Betapa kita sering tidak menghargai dan tidak mampu percaya akan bakat kepemimnan dari generasi muda dan mau memaksakan kehendak untuk mereka mengikuti saja apa yang kita mau dengan berlatarbelakang ketaatan – yang buta, yang irasionil dan kekanak-kanakkan. Sikap kerendahan hati dan kesaksian yang bijak dari Yohanes pemandi dalam usaha mempromosikan Yesus sebagai generasi penerus yang pantas membawa terang harapan hidup akan masa depan, membuat Yesus melakukan hal yang sama, ketika berkata bahwa dari semua laki-laki yang telah lahir dari perempuan, belum pernah ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes pemandi. Inilah sikap dan teladan kebijakkan yang saling menghargai, saling mempromosikan kehidupan, sikap kerendahan hati dan saling mengenal diri dan orang lain, sikap mengutamakan orang lain.
Bagaimana dengan sikap hidup dan teladan kepemimpinan kita di dalam masyarakat, dalam instansi kepemerintahan di mana kita berkaraya, dalam keluarga sebagai pola panutan anak-anak, serta bagaimana pula kepemimpinan kita di dalam gereja, dan dalam kongregasi serta di komunitas-komunitas religius kita? Apakah kita mampu mengenal kehadiran Allah dalam diri generasi muda? Apakah kita mampu mendengarkan seruan Allah lewat suara mereka yang memaparkan inspirasi baru kehidupan dalam konteks dunia baru yang beruabah-ubah ini? Apakah kita cukup sadar diri lagi percaya bahwa Allah sendiri hadir dan hidup dalam diri mereka? Tuhan mau melihat kita bahagia! Tetapi bagaimana dengan sikap kita sendiri, apakah kita pun ingin bahagia sebagaimana yang dikehendaki Allah? Apakah kita cukup rendah hati dan berani untuk memberikan kesempatan kepemimpinan kepada generasi muda, atau curiga dan takut, dan mau mempromosikan diri sendiri serta kelas atau golongan kita dengan sikap menyepelehkan suara kaum muda? Bagaimana kita sedang mempersiapkan generasi muda, yang secara teori dikatakan sebagai penerus lagi pengemban harapan bagi masa depan? Apa teladan konkrit, yang baik, yang sedang kita wariskan kepada mereka, baik itu dalam masyarakat negara, dalam keluarga, dalam gereja, dalam kongregasi dan dalam komunitas-komunitas religius kita?
________&&&________ Brasil, 10/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng,CMM.
[1] Miguel de Cervantes Saavedra de Alcala Henares atau dikenal dengan panggilan, Miguel Cervantes (1547 - 1616) adalah seorang puitis spanyol yang terkenal. Karya-karya puisinya merupakan buku kedua yang paling dibaca orang setelah Kitab Suci.
Nenhum comentário:
Postar um comentário